Breaking News:

LPAI: Kasus Gadis Belia Dijadikan PSK di Indonesia Ibarat Gunung Es

Bahkan, LPAI kerap kewalahan menangani laporan praktik prostitusi melibatkan anak di bawah umur. 

Penulis: Gerald Leonardo Agustino | Editor: Wahyu Aji
TRIBUNJAKARTA.COM/GERALD LEONARDO AGUSTINO
Sekretaris Jenderal Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Henny Hermanoe (tengah) saat memberikan keterangan di Mapolsek Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (27/1/2021). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Gerald Leonardo Agustino

TRIBUNJAKARTA.COM, TANJUNG PRIOK - Praktik prostitusi yang melibatkan anak di bawah umur diungkap Polsek Tanjung Priok dari sebuah hotel di kawasan Sunter, Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada Senin (25/1/2021) lalu.

Empat gadis berusia belasan tahun dijadikan PSK oleh seorang muncikari bernama Rama (19).

Gadis-gadis bau kencur itu dihargai jutaan rupiah untuk melayani nafsu kalangan pekerja hingga pengusaha.

Terkait kasus tersebut, Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) melihatnya sebagai sebuah fenomena gunung es.

"Kalau saya bilang seperti fenomena gunung es, ya memang kenyataannya seperti itu," kata Sekretaris Jenderal LPAI Henny Hermanoe saat dihubungi TribunJakarta.com, Jumat (29/1/2021).

Henny menuturkan, kasus yang terungkap oleh Polsek Tanjung Priok hanyalah satu dari sekian banyak kasus serupa yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia.

Bahkan, LPAI kerap kewalahan menangani laporan praktik prostitusi melibatkan anak di bawah umur

"Yang kelihatan di puncaknya saja. Di bawahnya itu banyak sekali. Bahkan banyak yang mengadukan ke LPAI, kami mentok. Karena nggak bisa menelusuri lebih lanjut gitu ya," kata Henny.

Sejak tahun 2019 hingga awal tahun 2021, sedikitnya ada tiga kasus tindak pidana perdagangan orang yang ditangani LPAI.

Siapa Sosok Pria Berinisial R yang Bayar Rp 20 Juta Booking 4 PSK Temani Dirinya di Kamar Hotel?

Muncikari Sasar Gadis Bau Kencur Nongkrong di Kafe Masuk Dunia Prostitusi

Sebelum kasus Tanjung Priok, LPAI menangani praktik prostitusi di bawah umur yang terjadi di Pulau Sumatera.

Salah satu kasus, kata Henny, terjadi di wilayah Lampung pada 2019 lalu.

"Satu di Lampung. Itu anak-anak Jawa Tengah yang dibawa ke Lampung. Kami selamatkan pada saat mereka di Lampung. Mereka mengadu, kemudian ada salah satu yang bisa telepon dan langsung kami layani, dan kami datangi Polres dan kami jemput anak-anak," kata Henny.

Ada pula kasus lainnya di perbatasan Medan (Sumatera Utara) dan Padang (Sumatera Barat).

Dalam kasus tersebut, anak-anak dibawa hingga ke wilayah Batam untuk dijadikan PSK.

"Jadi banyak sebenarnya. Bahkan Indonesia kan negara ketiga tertinggi dengan kasus TPPO (tindak pidana perdagangan orang) terbanyak," ucap dia.

Henny menambahkan, untuk mengantisipasi kasus-kasus serupa terjadi, LPAI terus menggencarkan edukasi seksual terhadap anak-anak belasan tahun.

Selain itu, LPAI juga menjadi salah satu bagian gugus tugas pemberantasan TPPO di bawah komando Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

"Ini kan kejahatan tersindikasi harus diatasi dengan sesuatu yang terorganisir dengan baik. Kementerian lembaga harus bahu-membahu. Kemudian kontrol kolektif masyarakat juga diharapkan," kata Henny.

Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved