Antisipasi Virus Corona di DKI

Wagub DKI Riza Patria: 53 Ribu Tenaga Kesehatan Sudah Disuntik Vaksin Covid-19 Sinovac

Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria mengatakan, jumlah tenaga kesehatan yang sudah menerima vaksin baru mencapai 53 ribu orang.

Penulis: Dionisius Arya Bima Suci | Editor: Wahyu Aji
TRIBUNJAKARTA.COM/DIONSIUS ARYA BIMA SUCI
Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria saat ditemui di Balai Kota, Jumat (29/1/2021). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Dionisius Arya Bima Suci

TRIBUNJAKARTA.COM, GAMBIR - Pemprov DKI Jakarta telah memulai penyuntikan kedua tahap pertama program vaksinasi Covid-19 sejak Kamis (28/1/2021) kemarin.

Ini merupakan tindak lanjut dari penyuntikan vaksinasi pertama yang dilakukan dua pekan lalu.

Adapun, tenaga kesehatan (nakes) menjadi prioritas pada tahap pertama program vaksinasi Covid-19 ini.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria mengatakan, jumlah tenaga kesehatan yang sudah menerima vaksin baru mencapai 53 ribu orang.

"Dalam prosesnya sudah mencapai 53 ribu nakes (divaksin)," ucapnya, Jumat (29/1/2021).

Meski sudah ada puluhan ribu nakes divaksin, Ariza mengakui jumlah ini belum mencapai target yang ditetapkan sebelumnya, yaitu 60 ribu.

Bahkan, nakes yang divaksin belum mencapai setengah dari jumlah tenaga kesehatan yang terdaftar di Dinas Kesehatan, yaitu 130 ribu.

Untuk itu, Ariza berjanji, pihaknya bakal terus mengebut proses vaksinasi bagi tenaga kesehatan ini.

"Mudah-mudahan dalam waktu seminggu, paling lambat 10 hari sudah selesai (60 ribu nakes divaksin)," ujarnya di Balai Kota.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Widyastuti menerangkan, jumlah nakes yang divaksin belum mencapai target lantaran banyak yang tak lolos dalam proses penyaringan data (screening).

Pasalnya, tenaga kesehatan yang sedang dalam kondisi hamil atau menderita penyakit kronis, seperti jantung, diabetes, ginjal tak bisa diimunisasi.

"Kemudian yang sudah teregistrasi melakukan lagi layanan di meja-meja. Di situ ditanya lagi, ada pemeriksaan oleh dokter," tuturnya.

"Kalau misalnya hamil atau menyusui, tekanan darah sangat tinggi, tentunya tidak diberikan suntikan dulu. Ditunda sampai kondisinya sesuai yang disarankan," tambahnya.

Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved