Breaking News:

Bambang Haryo Sarankan Dermaga Ekonomi di Merak-Bakauheni Ditambah

konsumen untuk mendapatkan pelayanan kapal eksekutif sesuai dengan standar, baik dari segi ukuran, usia kapal, kecepatan, maupun kenyamanan.

Editor: Wahyu Aji
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Suasana Pelabuhan Merak di Cilegon, Banten, Sabtu (17/10/2020). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Bambang Haryo Soekartono, pemerhati dan praktisi transportasi laut angkat bicara terkait rencana pembangunan dermaga eksekutif baru khusus untuk kapal ferry swasta di lintasan Merak-Bakauheni. 

Menurutnya, konsumen untuk mendapatkan pelayanan kapal eksekutif sesuai dengan standar, baik dari segi ukuran, usia kapal, kecepatan, maupun kenyamanan.

"Meskipun dermaga eksekutif baru akan dikhususkan untuk kapal swasta, itu bukan solusi. Fokus dulu membenahi dermaga eksekutif yang sudah ada dengan menempatkan kapal-kapal sesuai standarisasi eksekutif seperti yang sudah ada di kapal-kapal ferry swasta terbaik," kata Bambang dalam keterangan yang diterima, Senin (15/2/2021).

Bambang Haryo yang juga Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Jawa Timur mengatakan, Merak-Bakauheni justru butuh tambahan dermaga ekonomi supaya kapal-kapal di lintasan tersibuk di Indonesia itu bisa beroperasi secara optimal untuk melayani masyarakat.

Saat ini di lintasan Merak-Bakauheni terdapat 7 pasang dermaga, termasuk satu dermaga eksekutif, sedangkan armada yang beroperasi 74 unit sehingga setiap dermaga digilir untuk 10-11 kapal.

Bambang Haryo mengatakan, setiap dermaga ekonomi idealnya melayani 6 kapal (4 kapal operasi dan 2 kapal off) atau total 36 kapal ekonomi per hari. 

Akibat dermaga lebih sedikit, hanya 35 persen dari 74 kapal ferry yang dapat beroperasi di lintasan itu per tahun.

Sisanya terpaksa lego jangkar di luar area pelabuhan menunggu giliran operasi.

Menurutnya, kekurangan dermaga ekonomi menyebabkan utilisasi kapal-kapal di lintasan itu sangat rendah (under-utilize) sehingga menimbulkan ekonomi biaya tinggi.

Bebannya tidak hanya ditanggung oleh operator kapal, konsumen juga dirugikan karena tarif menjadi mahal karena biaya operasional kapal tinggi, waktu tempuh pelayaran lebih lama, dan ketersediaan kapasitas angkut tidak maksimal. 

Halaman
12
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved