Breaking News:

Antisipasi Virus Corona di Bekasi

Pemerintah Kota Bekasi Prioritaskan Diagnosa Covid-19 Menggunakan Rapid Tes Antigen

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bekasi Tanti Rohilawati mengatakan, memprioritaskan diagnosa Covid-19.

TribunJakarta/Yusuf Bachtiar
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bekasi Tanti Rohilawati di RSUD Tipe D Bekasi Utara, Rabu (3/2/2021). 

Laporan wartawan TribunJakarta.com, Yusuf Bachtiar

TRIBUNJAKARTA.COM, BEKASI SELATAN - Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bekasi Tanti Rohilawati mengatakan, memprioritaskan diagnosa Covid-19 terhadap kontak erat menggunakan rapid tes antigen.

"Prioritas digunakan untuk yang kontak erat dari yang terkonfirmasi. Kemudian, yang langsung ada keluhan juga diperiksa," kata Tanti, Rabu (17/2/2021).

Dia menjelaskan, Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi memiliki stok rapid tes antigen sebanyak 9.000 kit, jumlah tersebut didapat melalui pengadaan dan bantuan BNPB.

Baca juga: Dinas Kesehatan Kota Bekasi Segera Distribusikan Rapid Tes Antigen di Setiap Puskesmas

"Ada sekitar 9.000 kit, kita pengadaan 5.000 dan bantuan BNPB 5.000 lalu sekitar 1.000-an sudah terpakai," jelasnya.

Stok rapid tes antigen sejauh ini didistribusikan ke tiap-tiap puskesmas, 50 kit disiapkan untuk kegiatan tracing kontak di wilayah kerja masing-masing.

"Jadi masing-masing 50 kit antigen dulu, nanti kalau habis petugas puskesmas bisa ambil lagi ke Dinkes," terangnya.

Penggunaan rapid tes antigen ini lanjut Tanti, hanya sebatas diagnosa awal. Jika pada tahap tes tersebut positif, baru dilakukan PCR swab tes.

"Dari antigen dulu, baru kalau positif langsung PCR," tegasnya.

Meski begitu, penggunaan rapid tes antibodi masih dijalankan Dinkes Kota Bekasi. Sebab, berdasarkan kapasitas penggunaan, antibodi masih dibenarkan untuk diagnosa awal.

"Sama antara rapid (antibodi) dan antigen untuk mendeteksi. Tapi kalau untuk hasil yang pasti tetap harus PCR," paparnya.

Berdasarkan data di situs corona.bekasikota.go.id, jumlah kumulatif Covid-19 hingga Rabu (17/2/2021) di Kota Bekasi sebanyak 31.373 kasus.

Dari total kasus kumulatif, sebanyak 28.277 kasus sudah dinyatakan sembuh, 2.688 kasus masih dalam perawatan dan 408 kasus meninggal dunia. 

Penulis: Yusuf Bachtiar
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved