Breaking News:

Food Story

Kisah Soto Betawi Sambung Nikmat nan Legendaris di Pondok Pinang: Sampai Dikirim ke Mancanegara

Pelanggan memesan Soto Betawi Sambung Nikmat untuk dibawa ke luar negeri. Penjual pernah meladeni pesanan ke Singapura, Inggris, Belanda dan Belgia

Penulis: Satrio Sarwo Trengginas | Editor: Wahyu Septiana
TribunJakarta/Satrio Sarwo Trengginas
Sepiring soto betawi Sambung Nikmat dengan kuah merah yang menjadi ciri khasnya di Restoran Sambung Nikmat, Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan pada Rabu (17/2/2021). Pelanggan memesan Soto Betawi Sambung Nikmat untuk dibawa ke luar negeri. Penjual pernah meladeni pesanan ke Singapura, Inggris, Belanda dan Belgia 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Satrio Sarwo Trengginas

TRIBUNJAKARTA.COM, KEBAYORAN LAMA - Salah satu alasan orang setia menjadi pelanggan di rumah makan ialah karena kualitas rasa.

Berapapun harga bila pelanggan kadung cinta sukar untuk ditawar. Seporsi Soto Betawi Sambung Nikmat H Ridwan di Pondok Pinang menjadi bukti perkataan itu.

Usaha Soto Betawi H Ridwan bermula sekitar tahun 1987. Sebelum memulai merintis usaha kuliner, Ridwan bekerja sebagai tukang sayur keliling pada tahun 1980.

Suatu ketika, Ridwan terbersit memulai usaha makanan betawi. 

"Sebelum bikin soto, beliau sempat jualan nasi uduk pada tahun 1985," ujar Suhada (48), anak keempat H Ridwan sekaligus penerus usaha Kedai Soto Betawi Sambung Nikmat kepada TribunJakarta.com di lokasi pada Rabu (17/1/2021).

Dua tahun berselang, Ridwan beralih berjualan soto betawi. Suhada berkisah bahwa ayahnya meracik sendiri resep membuat soto sarat santan itu. 

Baca juga: Lezatnya Soto Betawi Sambung Nikmat di Pondok Pinang: Disajikan di Piring Rp 75 Ribu per Porsi

Baca juga: Apes Jual Motor Curian Lewat Facebook Tepergok Korbannya, Maling di Bekasi Diringkus Polisi

Baca juga: Mengenal Kompol Fajar Hari, Sosok Pengganti Kompol Yuni yang Dicopot karena Dugaan Kasus Narkoba

Ia kerap berimprovisasi untuk membuat resep sampai akhirnya Ridwan berhasil menemukan ramuan soto yang klop di lidahnya. 

Pada tahun 1990, kedai soto Ridwan mulai banyak dikenal orang. Mereka seakan tersihir dengan kelezatan racikan dari tangan Ridwan sendiri. Jumlah pelanggan ke rumah makannya pun meningkat.

Suhada mengenang masa kecilnya kala melihat ayahnya berjualan. Dulu, depan rumahnya menjadi tempat untuk berdagang soto. Akan tetapi, kini kedai sotonya sudah diperlebar. Ridwan membeli rumah di dekatnya dari hasil jualan soto.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved