Breaking News:

Koalisi Masyarakat Minta Vaksinasi Mandiri Ditunda, Ini Penjelasannya

"Sekarang kita harus utamakan menekan tingkat kesakitan dan kematian akibat Covid-19 pada kelompok rentan. Itu tujuan utama vaksinasi ini," paparnya.

TRIBUNJAKARTA.COM/MUHAMMAD RIZKI HIDAYAT
Sejumlah pedagang mengikuti vaksinasi Covid-19 di Blok A Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, Rabu (17/2/2021) pagi. 

TRIBUNJAKARTA.COM - Koalisi Masyarakat Sipil untuk Kesehatan dan Keadilan Sosial mendorong vaksinasi Covid-19 menerapkan prinsip ekuitas, seperti yang diimbau oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Prinsip ekuitas dalam konteks ini, mengutamakan vaksinasi kepada petugas kesehatan dan kaum rentan, dan vaksinasi mandiri boleh dilakukan setelah kaum rentan mendapatkannya. 

Senior Advisor on Gender and Youth WHO, Diah Saminarsih, mengatakan prinsip ekuitas perlu diterapkan mengingat masih sedikitnya jumlah vaksin Covid-19 di seluruh dunia. 

"Sejak proses vaksinasi dimulai, para ahli telah memprediksi adanya kesenjangan ketersediaan vaksin antar negara," tegasnya dalam pers virtual pada Minggu (21/2/2021).

Hal ini mendorong WHO membuat COVAX Facility untuk memastikan semua bantuan dapat diberikan kepada negara yang membutuhkan. 

Baca juga: Sidang Kebakaran Kejagung, Ahli Puslabfor Polri Sebut Ada Fraksi Solar di Setiap Lantai

WHO mendorong negara-negara maju untuk dapat berbagi jika ada kelebihan dosis, dan meminta para produsen vaksin agar berbagi pengetahuan untuk meningkatkan kemampuan manufaktur dan regulator guna mempercepat persetujuan darurat.  

Direktur Kebijakan Center for Indonesia's Strategic Development Initiatives (CISDI), Olivia Herlinda, mengatakan bahwa pemerintah perlu menunda rencana vaksinasi mandiri tersebut.

"Sekarang kita harus utamakan menekan tingkat kesakitan dan kematian akibat Covid-19 pada kelompok rentan. Itu tujuan utama vaksinasi ini," paparnya.

Baca juga: Nissa Sabyan Disebut Jadi Selingkuhan Ayus, Sahabat Merasa Sakit Hati: Aku Tau Banget Anaknya Gimana

CISDI melihat bahwa kebijakan vaksinasi mandiri prematur untuk dilakukan saat ini. Pasalnya, suplai vaksin masih terbatas secara global.

Pemerintah, lanjut Olivia, bisa fokus untuk mengoptimalkan 3T (testing, tracing, dan treatment) dan 3M (mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak), serta mengutamakan solidaritas dengan negara-negara lain secara global.  (*)

Editor: Kurniawati Hasjanah
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved