Breaking News:

Konsep Heuristika Hukum yang Disampaikan Ketua MA Lahir Menjawab Tantangan Zaman

Karena, kesempurnaan keilmuan dapat dilihat dari perpaduan antara aspek teoritis dan aspek praktik.

Pengamat hukum dari Universitas Nasional (Unas) Dr. Ismail Rumadan. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pengamat hukum dari Universitas Nasional (Unas) Dr. Ismail Rumadan menilai, lahirnya teori Heuristika hukum menjawab tantangan para penegak hukum, khususnya Hakim untuk mewujudkan keadilan yang sesungguhnya.

Apalagi saat ini tengah minim gagasan-gagasan baru dari para akademisi, khususnya di bidang hukum dan peradilan di Indonesia.

Konsep heuristika hukum ini disampaikan oleh Ketua Mahkamah Agung (MA) Prof HM Syarifuddin tersebut merupakan wujud dari perpaduan antara disiplin ilmu hukum dan segudang pengalaman dalam dunia praktik peradilan.

Karena, kesempurnaan keilmuan dapat dilihat dari perpaduan antara aspek teoritis dan aspek praktik.

"Idealnya suatu teori atau konsep lahir dari dialetika teoritis maupun lahir dari realitas berbagai pengalaman yang dialami seseorang," ujar Ismail Rumadan kepada wartawan, Selasa (23/2/2021).

Oleh karena itu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Pimpinan Perguruan Tinggi Hukum Indonesia (APPTHI) ini mengatakan, lahirnya heuristika hukum untuk menjawab tantangan kemajuan teknologi industri di era industri 4.0.

Dimana para Hakim dituntut untuk lebih peka dan up to date dalam memahami dinamika perkembangan teknologi dan perubahan tatanan kehidupan masyarakat.

"Gagasan lahirnya heuristika hukum menjawab perkembangan teknologi dan perubahan tatanan kehidupan masyarakat," katanya.

Ismail menjelaskan, para hakim yang masih menggunakan pola-pola berfikir formal-legalistik akan tergilas oleh lajunya perkembangan teknologi dan informasi.

Sebab terkadang aturan-aturan formal lamban dalam menyikapi perkembangan dan perubahan zaman.

"Contohnya dalam menyikapi kejahatan-kejahatan di bidang teknologi informasi (cyber crime) terkadang aturan-aturan formil belum mampu untuk menjangkau berbagai bentuk kejahatan tersebut. Sehingga hakim yang berfikir formalistik tentu akan mengalami kesulitan dalam mengadili model dan bentuk kejahatan yang modern ini," ujarnya.

Mantan Dekan Fakultas Hukum Unas ini yakin, bahwa konsep heuristika hukum akan mendapat tempat dan penerimaan yang baik di tengah masyarakat, terutama di kalangan akademisi.

"Metode heuristika hukum ini efektif karena dapat digunakan oleh para hakim untuk mengadili dan memutus suatu perkara di Pengadilan," ujarnya. (*)

Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved