Breaking News:

Lembaga HAM Cemaskan Penahanan Ibu Hamil dan Anaknya di Turki

Organisasi nonpemerintah Solidarity with OTHERS, membagikan statistik orang-orang yang ditangkap terkait dengan gerakan Gulen sejak 2016

freepik.com
Ilustrasi hamil 

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Sebanyak 219 wanita hamil dan wanita dengan anak di bawah usia enam tahun ditahan atau ditangkap secara sewenang-wenang karena diduga terkait dengan gerakan Gulen, yang dituduh oleh pemerintah Turki mendalangi kudeta yang gagal pada tahun 2016, menurut sebuah laporan yang baru-baru ini dirilis oleh pemantau hak asasi manusia yang berbasis di Brussels, dilansir dari Turkishminute, Kamis (25/2).

Organisasi nonpemerintah Solidarity with OTHERS, membagikan statistik orang-orang yang ditangkap terkait dengan gerakan Gulen sejak 2016 dalam sebuah laporan berjudul "Penahanan dan Penangkapan Sewenang-wenang sebagai Kejahatan terhadap Kemanusiaan".

Menurut laporan tersebut, total 92 wanita hamil dan wanita yang baru saja melahirkan, 40 ibu dengan bayi antara usia 0 - 6 bulan dan 87 ibu dengan anak antara usia 6 bulan dan 6 tahun ditahan atau ditangkap karena hubungan Gulen sebagai bagian dari operasi yang dilakukan di 56 provinsi.

"Sembilan puluh enam orang dengan masalah kesehatan yang serius ditahan atau ditangkap di 40 provinsi di seluruh Turki dalam operasi yang menargetkan yang diduga anggota gerakan Gulen," ungkap laporan pengawas hak asasi manusia tersebut.

Lebih jauh laporan tersebut menunjukkan bahwa 35 orang penyandang disabilitas dan 17 orang lanjut usia juga ditahan atau ditangkap atas tuduhan serupa dalam operasi yang masing-masing dilakukan di 21 dan 11 provinsi di seluruh Turki.

Baca juga: SBY Turun Gunung Seret Nama Moeldoko, Pengamat: Jika Benar, GPK PD Tak Bisa Dianggap Sebelah Mata

Baca juga: Covid-19 di Wuhan Disebut Berasal dari Kepala Babi yang Diimpor, Ini Kata Komisi Kesehatan China

Pemerintah Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) melancarkan perang melawan gerakan Gulen, sebuah kelompok berbasis agama yang diilhami oleh ajaran ulama Muslim yang berbasis di AS, Fethullah Gulen yang melakukan kegiatan pendidikan dan kegiatan amal di seluruh dunia, setelah terjadinya investigasi kasusk korupsi pada akhir 2013 yang melibatkan lingkaran dekat Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan.

Perang melawan gerakan tersebut memuncak setelah upaya kudeta yang gagal di Turki pada 15 Juli 2016 karena Presiden Erdogan dan pemerintah AKP-nya menuduh gerakan tersebut mendalangi kudeta yang gagal dan memulai pembersihan luas yang bertujuan untuk membersihkan simpatisan gerakan dari dalam lembaga negara, membunuh karakter para tokoh-tokoh ternamanya dan menahan mereka.

Gulen dan para pengikutnya menyangkal keras keterlibatannya dalam upaya kudeta atau aktivitas apa pun.

Sebagai bagian dari tindakan keras besar-besaran selama empat tahun yang terus menargetkan anggota yang diduga dari gerakan Gulen, total 292.000 orang telah ditahan sementara 96.000 lainnya telah dipenjara, menurut data yang diumumkan oleh Menteri Dalam Negeri Turki Suleyman Soylu, sementara sejumlah lainnya orang lain harus meninggalkan negara itu untuk menghindari penangkapan.

Lebih dari 130.000 pegawai negeri, termasuk 4.156 hakim dan jaksa, serta 20.610 anggota angkatan bersenjata dicopot dari pekerjaan mereka karena diduga menjadi anggota atau berhubungan dengan Gulen oleh undang-undang dekrit darurat yang tidak tunduk pada pengawasan yudisial maupun parlemen.

Kegiatan sehari-hari seperti memiliki rekening di atau menyimpan uang di bank yang berafiliasi dengan gerakan Gulen, bekerja di lembaga mana pun yang terkait dengan gerakan atau berlangganan surat kabar dan majalah tertentu dilihat sebagai tolok ukur untuk mengidentifikasi dan menangkap tersangka anggota gerakan tersebut.

https://www.turkishminute.com/2021/02/23/pregnant-women-mother-detained-or-arrested-over-gulen-links-in-4-years/

Editor: Muhammad Zulfikar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved