Breaking News:

Info Kesehatan

Kematian Akibat Kanker Paru di Indonesia Meningkat 18 Persen, Ini Penjelasannya

Kematian akibat kanker paru baik di Indonesia maupun di dunia  menempati urutan pertama di antara semua jenis kanker. 

Freepik
Ilustrasi pita kanker 

"Terobosan dalam penanganan kanker paru terus berkembang dan  tersedia di Indonesia dapat meningkatkan harapan hidup dan kualitas hidup penderita kanker  paru di Indonesia,” jelasnya.

Sistem kerja dari pengobatan imunoterapi ini adalah langsung menyasar atau menghambat  pertemuan sel imun yang kerap dimanfaatkan oleh sel kanker untuk menghindari serangan dari  sistem imun atau daya tahan tubuh. Dengan begitu, sistem kekebalan pada penderita kanker akan jauh lebih aktif untuk melawan sel kanker tersebut.

Imunoterapi diharapkan dapat menjawab kebutuhan penyintas dan dapat menekan laju pertumbuhan angka beban kanker paru.  

“Peningkatan kualitas hidup penyintas kanker paru tidak terlepas dari kemudahan akses  mendapatkan akses dari tahap diagnosis, terapi dan tatalaksana paliatifnya”, papar Dr. Sita.

Baca juga: Pesan Menyentuh Ayah Korban Bripka CS, Di Hadapan Jasad Sang Anak: Jangan Kematian Dibalas Kematian

Prof.dr. Elisna Syahruddin, Ph.D, Sp.P-K.Onk, Ketua Pokja Kanker Paru PDPI mengungkapkan bahwa kematian akibat kanker paru baik di Indonesia maupun di dunia menempati urutan pertama di  antara semua jenis kanker.

Banyak gejala yang mengarah pada kanker paru tetapi sayangnya gejala yang muncul adakalanya terabaikan sehingga penyintas kanker paru terdiagnosis pada stadium lanjut. 

"Melalui buku ‘Bersahabat dengan Kanker Paru: Kumpulan Kisah Inspirasi  Penyintas Kanker Paru’, teman-teman penyintas kanker paru dan caregiver mengajak pembaca  untuk lebih memahami tantangan yang sering terjadi pada penyintas kanker paru ketika mulai  menjalani pemeriksaan hingga diagnosis ditegakkan". 

Megawati Tanto selaku Koordinator Kanker Paru untuk CISC dan salah satu penulis buku turut  hadir dan membagikan ceritanya,

“Tantangan dari segala penjuru pasti datang menghampiri penyintas kanker paru, baik itu dari  mental, materi maupun kesakitan yang ditimbulkan kanker paling mematikan ini. Kami berharap kisah yang kami ceritakan dapat menemani penyintas yang baru menghadapi pengobatan kanker  paru, keluarga penyintas, dan masyarakat awam bahwa mereka tidak berjuang sendirian," aku Megawati.

Kisah inspirasi yang dituangkan dalam buku ini diharapkan dapat membuka mata semua pihak  bahwa peningkatan inovasi pada diagnosis dan pengobatan kanker paru penting untuk diprioritaskan secara nasional.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved