Breaking News:

Ekonomi Nasional Bakal Tumbuh 4,5-5,5 Persen Saat Pandemi Disebut Terlalu Muluk

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi di atas 4% di Indonesia dari historis hanya bisa dicapai saat inflasi juga di atas 4 persen.

Editor: Wahyu Aji
Tribunnews / Herudin
ILUSTRASI Suasana pembangunan gedung bertingkat di kawasan Jenderal Sudirman Jakarta Selatan, Rabu (20/4/2016). Kalangan kontraktor memproyeksikan pertumbuhan pembangunan gedung pada 2016 relatif rendah seiring keputusan sejumlah pengembang yang masih akan menahan laju pembangunan proyek properti baru. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ekonom Yanuar Rizky meragukan target yang disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, bahwa ekonomi Indonesia bakal tumbuh 4,5% sampai 5,5% di tahun 2021.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi di atas 4% di Indonesia dari historis hanya bisa dicapai saat inflasi juga di atas 4 persen.

"Jadi, faktornya adalah uang beredar meningkat dari sisi agregat demand konsumsi yang diatasi dari impor, baik impor bahan baku dan atau barang konsumsi. Itu juga berarti ada peningkatan daya beli di sisi demand," kata Yanuar saat dikonfirmasi, Minggu (28/2/2021).

Jika melihat kondisi saat itu, dia mengungkapkan, maka konsumsi naik dan orang tak kehilangan pekerjaan.

Sementara pandemi ini kendala terbesarnya, sisi produksi terkena dampak lantaran demand turun akibat global lockdown.

"Kondisi itu juga menyebabkan PHK, yang menurunkan daya beli. Jadi, kalau ingin instan ke 5,5% tanpa memperbaiki sisi daya beli yang dalam tekanan maka sisi suply juga masih tertekan. Terlalu ambisius kalau ke 5,5%," ujarnya.

Yanuar meminta pemerintah tidak terlalu muluk dalam menerawang kemungkinan pertumbuhan ekonomi tahun ini.

Pemerintah harus memiliki strategi agar dapat mencapai 5,5 %.

"Jangan kebanyakan halusinasi yang muluk-muluk. Kalau mau itu hidupkan intermediasi kelompok menengah perkotaan ke investasi pertanian melalui trustee fund pemerintah. Sehingga, ada belanja investasi masyakat kota dengan budaya investasi lokal, di basis terbesar tenaga kerja kita di sektor pertanian, yang petaninya gurem," katanya.

Sebelumnya, Juru bicara Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kokok Dirgantoro menyampaikan senang mendengar pernyataan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto bahwa ekonomi Indonesia akan tumbuh 4,5 - 5,5%.

"Kami tentu senang dengan optimisme mengenai pertumbuhan ekonomi yang disampaikan oleh Menko Perekonomian Pak Airlangga Hartarto. Agar optimisme itu memiliki dasar yang kuat. Strategi dan road map untuk mencapai pertumbuhan 4,5 -5,5% itu apa dan bagaimana?" kata Kokok.

Menurut Kokok, Airlangga perlu menyampaikan kepada publik strategi dan roadmap pertumbuhan ekonomi tersebut secara detail.

"Semua pihak termasuk pengusaha tentu berharap pertumbuhan 4,5 - 5,5% itu terwujud. Artinya banyak lapangan kerja yang kembali dibuka, konsumsi kembali menggeliat. Tapi Pak Airlangga harus sampaikan secara terbuka strategi dan road mapnya sehingga publik bisa menilai bahwa pernyataan itu relistis bukan angin surga belaka," kata Kokok

"Saya sekali lagi senang jika Kemenko Perekonomian memiliki optimisme, namun kita minta agar pondasi argumentasinya dijelaskan lebih detail. Optimisme itu bagus, tapi di sisi lain bisa menimbulkan spekulasi yang akhirnya membawa dunia usaha keliru mengambil keputusan. Kita minta Pak Airlangga untuk menjelaskan lebih detail rencana pemulihan ekonomi nasional," kata Kokok. (*)

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved