Breaking News:

Antisipasi Virus Corona di Bekasi

Pemintaan Tinggi, Ternyata Segini Harga Satu Kantong Plasma Konvalesen di PMI Kota Bekasi

Terapi Plasma Konvalesen dipercaya sebagai salah satu cara pengobatan yang dianggap cukup manjur untuk pasien Covid-19.

TRIBUNJAKARTA.COM/DWI PUTRA KESUMA
Proses donor darah dan plasma konvalesen personel Korps Brimob Polri Kelapa Dua, Cimanggis, Kota Depok. 

Laporan wartawan TribunJakarta.com, Yusuf Bachtiar

TRIBUNJAKARTA.COM, BEKASI SELATAN - Terapi plasma konvalesen dipercaya menjadi pengobatan yang dianggap cukup manjur untuk pasien Covid-19.

Manajer Mutu Laboratorium Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Bekasi Abas Suherli mengatakan, permintaan plasma konvalesen masih cukup tinggi.

Layanan donor plasma konvalesen di PMI Kota Bekasi sejauh ini sudah bisa dilakukan, sejumlah rumah sakit rujukan kerap mengajukan permintaan untuk upaya penanganan Covid-19.

"Permintaan banyak sekali, karena plasma konvalesen tetap suatu terapi pengobatan yang cukup baik," kata Abas saat dikonfirmasi, Senin (8/3/2021).

Dia menjelaskan, untuk mendapatkan donor plasma konvalesen tidak gratis.

PMI mematok harga untuk biaya pengganti pengolahan.

Biaya pengolahan ini kata Abas, meliputi kantung darah, proses pengecekan faktor-faktor risiko, mengecek antibodi dan masih banyak lagi.

"Jadi memang biaya itu dibutuhkan untuk pengelolaannya, bukan mencari keuntungan, bukan untuk diperjual-belikan," tegasnya.

Abas menuturkan, biaya untuk satu kantong plasma disesuaikan dengan ketetapan yang sudah dijalankan PMI Pusat.

Untuk satu kantung plasma konvalesen dengan volume 600 milimeter, dibanderol seharga Rp2.000.000 untuk satu orang.

"Kami mengacu pada PMI Pusat, jadi biayanya itu Rp2.000.000 per orang, karena PMI itu kemanusiaan tidak boleh mencari untung, biaya itu juga sudah mengikuti acuan pemerintah," terang dia.

Adapun untuk permintaan sendiri, pasien dalam hal ini tidak dapat mengajukan secara mandiri. Harus sesuai dengan anjuran dokter yang merawat.

"Yang meminta adalah dokter yang merawat, bukan Keluarga, karena dokter yang mengetahui betul kondisi pasien," tegasnya.  

Penulis: Yusuf Bachtiar
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved