Breaking News:

Sisi Lain Metropolitan

Rohim Si Penjual Balon Pakai Kostum Badut: Punya Masalah pada Tangan, Terima Bayaran Seikhlasnya

Baru-baru ini viral video di media sosial, baik melalui TikTok maupun Instagram perihal penjual balon yang mengenakan kostum badut.

Penulis: Nur Indah Farrah Audina | Editor: Wahyu Septiana
TribunJakarta.com/Nur Indah Farrah Audina
Rohim, penjual balon seikhlasnya dengan kostum badut saat ditemui di SPBU di Kawasan Jatiwaringin, Pondok Gede, Kota Bekasi, Rabu (10/3/2021) 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Nur Indah Farrah Audina

TRIBUNJAKARTA.COM, PONDOK GEDE - Baru-baru ini viral video di media sosial, baik melalui TikTok maupun Instagram perihal penjual balon yang mengenakan kostum badut.

Dengan keranjang kecil di depannya, balon tersebut diketahui dijual dengan harga seikhlasnya, sesuai tulisan yang tertera pada keranjang tersebut.

'JUAL BALON SEIKHLASNYA'.

Saat ditemui, memang tak ada yang berbeda dari sosok Rohim.

Sayangnya bila diperhatikan secara mendetail, tangan kiri Rohim tampak kaku.

Jari jemarinya terus mengepal dengan bekas jahitan di sekitaran pergelangan tangan.

Rohim mengatakan kondisi tangannya sulit digerakan imbas kecelakaan motor di kawasan Bekasi pada tahun 2004 lalu.

Baca juga: Cara Kerupuk Erna Jaya Bertahan di Tengah Pandemi Covid-19: Jemput Bola Sampai Rumah Pejabat

Baca juga: Bermula Dipikul Tahun 1965, Kriuk Renyah Kerupuk Erna Jaya sampai Dinikmati Para TKI di Thailand

Baca juga: Klasemen Liga Inggris - Di Puncak, Manchester City Makin Tak Terkejar

Luka jahitan di tangan, kaki dan kepala membuat beberapa bagian tubuhnya akan suit digerakan.

Berjam-jam memegang balon, membuat tangan kirinya kerap kaku.

Bahkan beberapa hari belakangan sulit digerakan dan ia sempat tak bekerja selama 3 minggu.

"Untuk pegang balon pun butuh bantuan tangan satunya, untuk buka kepalan tangan ini. Makanya mungkin karena terus pegang balon jadi tangan suka kaku. Kemarin sempat gak ngebadut karena tangan kaku," ucapnya, Rabu (10/3/2021).

Selama tiga minggu ia merasakan tangan kirinya sulit digerakan. Bahkan untuk sekedar diangkat ke atas pun sulit.

"Gerak aja sakit makanya saya suka ga kerja. Kalau saya enggak kerja berarti tangan lagi kambuh. Sudah diurut dua kali juga belum tentu bisa digerakan," jelasnya.

Viral di medsos

Bapak satu anak ini menuturkan video tersebut diambil saat ia berjualan balon di SPBU daerah Kodau, Kota Bekasi.

"Iya betul itu saya. Kalau enggak salah itu pas hari Minggu ya. Ada mba-mba minta izin buat video saya. Ya saya iyakan. Untuk lokasinya memang lagi di Kodau, karena biasanya saya sering berpindah lokasi," katanya.

Baca juga: Cara Kerupuk Erna Jaya Bertahan di Tengah Pandemi Covid-19: Jemput Bola Sampai Rumah Pejabat

Sudah diwanti-wanti bisa viral, Rohim mengaku tak kaget bila di sejumlah media sosial videonya dirinya bermunculan.

"Jadi pas ambil video udah dikasih tahu bisa viral. Ya saya ma iya-iya aja dan ternyata benar viral," ungkapnya.

Dengan rendah hati dan sopan, Rohim menceritakan baru tiga bulan berjualan balon dengan kostum badut.

Mulanya, sedari tahun 2002 lalu, ia bekerja di sebuah depot air minum.

Diupah Rp 80 ribu perhari, ia biasa mengatarkan galon air minum ke sejumlah acara besar, seperti pesta pernikahan di gedung maupun hotel.

Naas, imbas pandemi segala bentuk acara seperti resepsi di gedung sempat tak diperbolehkan.

Rohim, penjual balon seikhlasnya dengan kostum badut saat ditemui di SPBU di Kawasan Jatiwaringin, Pondok Gede, Kota Bekasi, Rabu (10/3/2021)
Rohim, penjual balon seikhlasnya dengan kostum badut saat ditemui di SPBU di Kawasan Jatiwaringin, Pondok Gede, Kota Bekasi, Rabu (10/3/2021) (TribunJakarta.com/Nur Indah Farrah Audina)

Hal ini tentunya berdampak pada dirinya dan karyawan lainnya hingga terjadi PHK secara massal.

"Saya kayak gini juga baru. Paling baru 3 bulan.  Ya ini karena corona aja. Saya dipecat dari kerjaan yang lama karena emang udah gak kirim air minum ke gedung-gedung," jelasnya.

Selama beberapa bulan pasca PHK, ia enggan untuk berdiam diri.

Memikul tanggung jawab sebagai kepala keluarga membuatnya tetap harus bekerja.

Meski serabutan dengan modal hasil pinjaman, ia menjual apapun, misalnya seperti ikan cupang untuk menghasilkan pundi rupiah yang halal.

Sampai akhirnya di awal bulan ia bertemu dengan rekannya dan menawarkan pekerjaan.

"Him mau kerja ngga?," ujar Rohim menirukan temannya.

Baca juga: Cara Kerupuk Erna Jaya Bertahan di Tengah Pandemi Covid-19: Jemput Bola Sampai Rumah Pejabat

"Kerja apaan?," tanya Rohim tergesa.

"Jadi badut. Kostumnya sewa Rp 50 ribu perhari. Kalau balonnya Rp 1 ribu perbuah," jawab temannya.

"Saya langsung iyakan. Saya bilang 'mau' dan akhirnya saya kerja begini sampai sekarang," jelasnya.

Tercetus bayar seikhlasnya

Meski setiap harinya ada biaya setoran untuk sewa Kostum dan balon yang diambilnya, Rohim mengatakan tak merugi dengan bayaran seikhlasnya.

Ia melakukan hal tersebut lantaran menemukan beberapa fakta, di mana sejumlah orang tua enggan membelikan balon untuk anaknya ketika berpapasan dengan dirinya.

Rohim, penjual balon seikhlasnya dengan kostum badut saat ditemui di SPBU di Kawasan Jatiwaringin, Pondok Gede, Kota Bekasi, Rabu (10/3/2021)
Rohim, penjual balon seikhlasnya dengan kostum badut saat ditemui di SPBU di Kawasan Jatiwaringin, Pondok Gede, Kota Bekasi, Rabu (10/3/2021) (TribunJakarta.com/Nur Indah Farrah Audina)

Tak jarak anak-anak tersebut sampai menangis tersedu.

"Mulanya cuma tulisan JUAL BALON aja. Lalu saya tambahkan SEIKHLASNYA karena ada pengalaman anak kecil nangis tapi orang tuanya enggak belikan. Mungkin enggak ada uang atau takut harganya mahal. Jadi saya putuskan untuk tuliskan seperti itu," ungkapnya.

Selain itu, Rohim juga kerap membagikan balonnya ke sejumlah anak dengan cuma-cuma alias gratis.

Melihat anak-anak kerap menangis ia tak tega hati dan terbayang anaknya yang masih kecil di rumah.

"Makanya minimal saya bawa 50 balon. Sebab ada aja anak-anak yang nangis tapi orang tuanya nggak kasih, jadi saya kasih balonnya gratis. Alhamdulillah rezeki ma ada aja jalannya," jelasnya.

Dalam sehari, Rohim bisa memperoleh penghasilan kotor sebesar Rp 300 ribu.

Baca juga: Bermula Dipikul Tahun 1965, Kriuk Renyah Kerupuk Erna Jaya sampai Dinikmati Para TKI di Thailand

Baca juga: Cara Kerupuk Erna Jaya Bertahan di Tengah Pandemi Covid-19: Jemput Bola Sampai Rumah Pejabat

Baca juga: Pemkot Jakarta Timur Singgung BBWSCC Terkait Upaya Penanganan Banjir

Namun, penghasilan ini masih harus dipotong biaya sewa kostum, setoran balon hingga dibagi dua dengan rekannya.

Yap, untuk diketahui, Rohim tak bekerja sendiri. Ia bekerja bergantian dengan rekannya, Hasan.

Sehingga ketika stok balon mulai menipis, maka rekannya bertugas meniup balon, begitupun sebaliknya.

"Alhamdulillah Rp 300 ribu ya dapat. Tapi itu kotor karena saya berdua kan. Memang kalau sendiri enggak bisa karena ada yang harus tiup balon. Apalagi pakai kostum sejam aja sudah gerah. Jadi palingan bersih ke perorang Rp 80 ribu," tandasnya.

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved