Breaking News:

Sisi Lain Metropolitan

Cerita Waluyo Hidup di Pinggir Rel Manggarai: Kepala Anaknya Pernah Terbentur Bemper Kereta

Waluyo (41) warga yang hidup di pinggir jalur rel lama kereta Manggarai - Bekasi. Ia tinggal bersama istri dan 4 anaknya di bedeng pinggir rel.

TRIBUNJAKARTA.COM/SATRIO SARWO TRENGGINAS
Potret kehidupan keluarga Waluyo di pinggiran rel kereta api Manggarai di Jakarta pada Jumat (12/3/2021). Waluyo (41) warga yang hidup di pinggir jalur rel lama kereta Manggarai - Bekasi. Ia tinggal bersama istri dan 4 anaknya di bedeng pinggir rel. 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Satrio Sarwo Trengginas

TRIBUNJAKARTA.COM, TEBET - Waluyo (41) ialah salah satu warga yang hidup di pinggir jalur rel lama kereta Manggarai - Bekasi.

Bersama istrinya, Sa'anih dan keempat anaknya, Putra (11), Ahmad (5), Dana (4) dan Galih (2), mereka tinggal di bedeng pinggir rel.

Bedengnya terletak di tengah semak belukar.

Selama tinggal di pinggir rel, mara bahaya pernah menghampiri keluarganya.

Potret kehidupan keluarga Waluyo di pinggiran rel kereta api Manggarai di Jakarta pada Jumat (12/3/2021).
Potret kehidupan keluarga Waluyo di pinggiran rel kereta api Manggarai di Jakarta pada Jumat (12/3/2021). (TRIBUNJAKARTA.COM/SATRIO SARWO TRENGGINAS)

Beruntung, kejadian itu tak sampai menjemput ajalnya.

Kejadian itu berawal dari sang anak, Dana (4) yang pernah mengalami kecelakaan saat berada di dekat jalur rel lama.

Kepalanya sempat terbentur bemper kereta. Saat itu, kereta hendak berhenti dari arah Bekasi menuju Manggarai di jalur depan bedengnya.

Baca juga: Kecurigaan Amien Rais Terhadap Rezim Jokowi, Ada Pasal yang Mengatur Presiden 3 Periode

Baca juga: Atta Lamar Aurel Bersamaan dengan Vicky Prasetyo Nikahi Kalina, Intip Seserahan, Siapa Paling Mewah?

Baca juga: Melihat Potret Hidup Pinggiran Rel Kereta Manggarai: Tidur Berdinding Plastik hingga Tanpa Listrik

"Iya ini dulu anak saya pernah kena bempernya. Kepalanya," cerita Sa'anih.

Akibatnya, kepala Dana memar. Sa'anih dan Waluyo bersyukur anaknya selamat dari mara bahaya itu.

Halaman
1234
Penulis: Satrio Sarwo Trengginas
Editor: Wahyu Septiana
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved