Breaking News:

Komisi IV DPR Akan Awasi Detil Industri Perunggasan, Jangan Sampai Peternak Rakyat Mati Saat Pandemi

Menurutnya peternak-peternak mandiri tersebut harus dibantu justru pada masa pandemi Covid-19

Editor: Wahyu Aji
KOMPAS/ABDULLAH FIKRI ASHRI
Peternak mengecek pakan ternak ayam broiler di Kecamatan Gegesik, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Kamis (25/2/2016). Sepekan terakhir, harga ayam broiler hidup di tingkat peternak di Cirebon berangsur anjlok dari Rp 18.000 per kilogram menjadi Rp 9.000 per kilogram. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Integrator atau perusahaan perunggasan raksasa dengan jaringan perusahaannya, menguasai bisnis perunggasan dari hulu hingga ke hilir.

Mulai pembibitan ayam indukan broiler (pedaging) Grand Parent Stock (GPS), pakan, dan bahkan bermain pada budi daya.

Pada 2019, data Kementerian Pertanian (Kementan), pada 2019 Indonesia mengimpor 707.000 bibit ayam GPS dengan nilai Rp 415 miliar per tahun.

Pada 2021, impor bibit ayam GPS mencapai 600.000 ekor.

“Yang jadi masalah adalah dua integrator atau perusahaan unggas raksasa memiliki jatah hingga 60 persen, yang mereka salurkan kepada jaringan mereka. Sementara peternak mandiri sulit mendapatkannya,” ujar Ketua Forum Komunikasi Pembibitan Indonesia (FKPI), Noufal Hadi dalam keterangan yang diterima, Rabu (17/3/2021).

Kuota impor GPS yang ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) tersebut, menerapkan sistem skor.

Integrator dan peternak mandiri memperoleh jatah GPS sesuai dengan skor mereka.

“Inilah yang jadi soal, ada peternak pembibitan UMK yang skornya baik malah dikurangi lebih banyak, sementara kuota integrator tetap banyak. Padahal dua perusahaan besar integrator menyalurkan 80 persen Day Old Chicken (DOC) ke anak-anak perusahaan atau jaringan mereka. Para peternak mandiri kesulitan membeli doc dari mereka,” ujarnya.

Akibatnya, para peternak tidak bisa mendapatkan bibit ayam berkualitas atau kualitas satu.

Sementara, bila membeli DOC kualitas dua, biaya produksi bakal meningkat yang mengakibatkan kerugian peternak.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved