Breaking News:

Food Story

Cerita Pemilik Soto Betawi H Husen Sempat Diajak Main Film Layar Lebar karena Ketenarannya

Tak hanya artis ternama yang sudah mampir, Presiden RI ke-4, Gus Dur juga pernah menjajal soto betawi H Husen.

Penulis: Satrio Sarwo Trengginas | Editor: Muhammad Zulfikar
TRIBUNJAKARTA.COM/SATRIO SARWO TRENGGINAS
Sosok penerus generasi ketiga Soto Betawi H Husen, Yadi pada Kamis (18/3/2021). 

Namun, ia hanya mengetahui asal usul usaha soto betawi yang dirintis dari ayahnya. Sebab, kakeknya sudah wafat jauh sebelum dirinya lahir.

Ayahnya sempat ikut membantu usaha soto kakeknya.

"Jadi bapak ikut ngurusin usaha soto kakek (warung). Diajarin lah rahasia cara membuatnya. Dari situ bapak berani bikin usaha sendiri," ceritanya kepada TribunJakarta.com pada Kamis (18/3/2021).

Setelah keluar dari usaha soto ayahnya, Husen tak langsung merintis usaha.

Ia pernah bekerja sebagai loper koran, pengantar bunga hingga sopir taksi.

Sekitar tahun 1975, Husen berani berjualan soto sendiri lantaran merasa mampu menguasai resep. Ia berjualan soto secara dipikul berkeliling. 

Ia terus mengembangkan usahanya. Dari pikulan Husen menggantinya dengan gerobak untuk berjualan.

"Punya rezeki lagi akhirnya bikin warung tenda terus berjualan di pinggir kali di dekat Pasar Rumput," cerita Yadi.

Baca juga: Mencicipi Kuliner di Sekitar Bangunan Bersejarah, Selain Perut Kenyang Wawasan Kita Bertambah

Baca juga: Berburu Kuliner Kaki Lima di Depok: Rp 15 Ribu Sudah Kenyang, Jajan Apa Saja?

Baca juga: Perjuangan H Husen Buka Soto Betawi di Setiabudi: Bayar Dp dengan Motor RX King demi Buka Warung

Diusir Satpol PP

Usaha soto betawi H Husen juga tidak selalu berjalan mulus. Yadi bercerita ayahnya juga melewati onak dan duri kala membangun usaha.

Ia pernah diusir Satpol PP hingga diintimidasi preman.

"Di situ (Pasar Rumput) dulu sempat diusirin satpol pp, premannya juga banyak. Akhirnya pindah lagi ke samping Pasaraya Manggarai, dekat Rumah Sakit. Pas dipojokan," ungkapnya.

Karena kelezatan soto betawinya, Husen memiliki banyak pelanggan. Salah satu pelanggannya kemudian menawarkan untuk pindah ke sebuah rumah sewa miliknya.

"Udah Sen, Pakai dulu aja, daripada kosong," kenang Yadi menirukan ajakan pelanggan itu.

Bayar Dp pakai RX King

Pada tahun 1989, lanjut Yadi, ayahnya pindah merintis usaha soto betawi di sana.

Dua tahun berselang, Husen berinisiatif untuk membeli rumah yang disewanya untuk berdagang. Seingat Yadi, ayahnya itu membayar uang muka dengan motor RX King-nya demi mencicil rumah itu.

"Bapak inisiatif buat bayarin rumahnya, dengan cara dicicil. Dulu Dp-nya itu pakai motor RX-King," lanjutnya.

Kebetulan, di sekitar Jalan Padang Panjang dulu hanya soto betawi H Husen yang berjualan makanan.

 "Di sini dulu banyak yang jual barang-barang antik, yang jual makanan cuma bapak saya aja," tambahnya.

Rumah sewa itu lah yang sekarang menjadi warung Soto Betawi H Husen.

Pelanggan secara turun temurun

Pelanggan Warung Soto Betawi H Husen berasal dari turun temurun. Dari kakeknya turun ke ayahnya hingga ke cucunya. 

Sebab, rasa lezat soto betawi lah yang membuat para pengunjung selalu setia kembali.

"Bisa dibilang ini turun temurun, masih anak-anak ikut bapaknya, kemudian ketika sudah bujang ke sini. Pas sudah punya anak bahkan cucu ke sini lagi. Para pelanggan sering cerita kepada saya," cerita Yadi.

Para pejabat dan artis ternama pun pernah singgah ke warungnya demi menikmati soto berkuah kuning sarat jeroan itu.

Itu bisa dibuktikan dengan dinding bagian samping kiri dan kanan warung yang dipenuhi foto lawas. 

Semuanya foto-foto pemilik bersama artis ternama. Sebagian besar mereka yang ada di foto sudah tersengat kenikmatan kuah soto ini.

Atraksi lempar garam

Sosok H Husen juga dikenang dengan atraksinya kala meracik soto betawi. 

Atraksi itu dengan cara mengambil sedikit garam memakai sendok kemudian melemparkannya ke mangkuk soto.

Atraksi itu ditampilkan sejak Husen berjualan dengan cara dipikul sampai punya warung sendiri.

Ketika Husen tutup usia, banyak pelanggan yang rindu melihat aksi lempar garem itu ke dalam mangkuk soto yang diraciknya.

"Dari pertama kali buka, bapak itu memang sudah suka lempar gara. Makanya terkenang di pembeli. Pembeli lama pasti kangen dengan aksi itu," tambahnya.

Sosok H Husen

Semenjak tutup usia pada tahun 2016, sosok H Husen dikenang banyak para pelanggan lama.

Sebab, semasa hidupnya Husen merupakan sosok yang gemar bercanda dan ramah.

"Banyak pelanggan lama yang kehilangan karena enggak sudah enggak ada ngocolnya dan senyumnya," kenang Yadi.

Kini usaha soto H Husen diteruskan ke anak bungsunya, Yadi.

"Jadi kakak saya yg pertama sudah meninggal, yang kedua perempuan sudah menikah ikut suaminya. Terakhir, saya," ujarnya.

Yadi berencana untuk mengembangkan usaha soto betawi yang diturunkan dari mendiang ayahnya itu.

Ia bermimpi mengembangkan usaha soto betawi ke dalam konsep food truck.

"Tapi itu baru rencana, belum tahu kapan," pungkasnya.
 

Cita rasa Soto Betawi H Husen

Warung Soto Betawi H Husen yang berlokasi di Jalan Padang Panjang No. 6 C, Kelurahan Pasar Manggis, Jakarta Selatan, acapkali dipenuhi hiruk pikuk pengunjung di kala jam makan siang.

Sebenarnya, Soto Betawi H Husen masuk ke dalam kelurahan Pasar Manggis tetapi soto betawi ini sudah kadung terkenal masuk di wilayah Manggarai, Tebet oleh kebanyakan orang.

Nama pendirinya, H Husen pun banyak ditulis keliru dengan ditambah huruf i menjadi Husein oleh orang yang sudah meliput sebelumnya.

Hal itu bisa dibuktikan bila kita mencari informasi tentang soto betawi H Husen di internet.

"Wah, padahal setiap wawancara selalu saya ralat loh mas, yang benar itu H Husen," ujar penerus usaha soto betawi H Husen generasi ketiga, Husni Mulyadi (30). 

Saat jam makan siang, para pengunjung langsung menyerbu warung sederhana itu. Deretan mobil dan motor kerap memenuhi depan pinggir warung.

Bila di depan warung penuh, tukang parkir akan mengarahkan pengunjung bermobil parkir di seberangnya.

Deretan bangku kayu panjang seketika dipenuhi para pengunjung yang menanti semangkuk soto terhidang di hadapan mereka.

Para karyawan dari balik kaca etalase tampak sibuk meladeni pesanan yang datang beruntun.

Saya turut ambil bagian memesan seporsi soto campur betawi H Husen.

Semangkuk soto campur terdiri dari beragam jeroan. Ada paru, babat, usus, daging, kikil, mata dan tulang muda.

Selain soto campur, Soto betawi H Husen juga menjual soto istimewa dan soto daging.

Soto istimewa isiannya sama, hanya saja porsinya yang lebih besar ketimbang dua menu lainnya.

Kuah berwarna kuning

Tak sampai menunggu lama, pelayan kemudian menghidangkan seporsi soto dan nasi di atas meja. Dari penampakannya, soto betawi ini berkuah kuning dan agak kemerahan.

Menurut Yadi, sapaan Husni Mulyadi, kuah sotonya berwarna kuning karena menggunakan kunyit.

"Kuahnya agak kuning kemerahan, merahnya itu kita ambil dari minyaknya cabai," ujar Yadi, nama panggilannya, kepada TribunJakarta.com pada Kamis (18/3/2021).

Meski bukan soto istimewa, soto campur yang saya pesan porsinya juga terbilang banyak.

Potongan aneka jeroan dan daging tampak memenuhi mangkuk. 

Soto betawi ini juga ditaburi emping. Bila emping yang tersaji di mangkuk tak cukup, tersedia juga emping berukuran besar seperti kerupuk rambak.

Kala disesap, kuah santannya terasa gurih. Mulut seolah menagih untuk terus menyeruput gurihnya kuah kuning itu.

Saya juga terpesona dengan pemandangan jeroan yang teronggok di dalam kuah soto.

Berbeda dengan soto betawi yang lain, soto betawi H Husen hanya berisi daging dan jeroan tok. Tak ada irisan tomat ataupun kentang di dalamnya.

Daging dan jeroannya juga tak kalah gurih nan empuk. Yadi menjelaskan semua daging sapi dan aneka jeroan sudah dibumbui dan digoreng. Agar empuk, daging sebelumnya direbus selama 2 jam.

Kikilnya pun tidak terasa alot dan keras. Sebab, kikil direbus selama 4 jam agar empuk.

"Kikil di sini bisa dinikmati oleh semua umur. Kebanyakan orang ngeluh karena kikilnya terlalu keras atau kenyal, di sini dibikin kikilnya empuk," jelasnya.

Disantap bersama nasi bertabur bawang goreng, rasa soto betawi ini memang top markotop.

Di hari biasa, Yadi melanjutkan warung soto betawi ini bisa menghabiskan sekitar 110 kg daging dan jeroan. 

Sedangkan di akhir pekan, ia bisa menghabiskan 130 kg sampai 135 kg daging dan jeroan sapi.

Harga seporsi soto betawi campur seharga Rp 35 ribu, soto betawi daging Rp 37 ribu, soto betawi istimewa Rp 50 ribu dan nasi Rp 5 ribu.

Di awal pandemi, warung soto betawi H Husen turut terkena dampaknya. Yadi sempat menutup selama 2 bulan warungnya.

"Karena kita melihat karyawan banyak yang sudah tua, makanya kita utamakan lockdown," ujarnya.

Kemudian, Yadi pelan-pelan mulai kembali berdagang sesuai dengan protokol kesehatan.

Warung Soto Betawi H Husen buka Senin sampai Kamis dan Sabtu-Minggu dari pukul 07.00 WIB dan 14.00 WIB.

Kalau mau mampir, jangan sampai telat. Soalnya, belum sampai jam 13.00 WIB saja, warung sudah tutup karena habis. Better late than never tidak berlaku disini.

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved