Breaking News:

Nasib Tragis Tim Bulu Tangkis, Merasa Didiskriminasi di Hotel hingga Mie Instan jadi Penyelamat

Tim bulu tangkis Indonesia harus memgalami nasib tragis di All England 2021. Setelah diminta mundur, mereka juga seolah didiskriminasi.

Penulis: Rr Dewi Kartika H | Editor: Elga H Putra
BADMINTONINDONESIA.ORG
Ganda putra Indonesia, Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo, sukses menyabet gelar juara turnamen All England Open 2018, Minggu (18/3/2018). 

Pasalnya, BWF tak bisa beraksi banyak akibat kebijakan otoritas kesehatan Inggris, NHS (national healthy service) yang memaksa langkah Indonesia terhenti di kejuaraan bergengsi tersebut.

Baca juga: Kontingen Indonesia Dipaksa Mundur, Ketum PBSI: Masalahnya Ada di National Healthy Service Inggris

Sialnya lagi, kebijakan memaksa mundur tim Indonesia justru terjadi setelah tiga andalan Indonesia telah bermain, yaitu dua ganda putra Indonesia, Hendra Setiawan-Mohammad Ahsan, Kevin Sanjaya-Marcus Fernaldi Gideon, serta Jonatan Christie.

Ketiganya pun meraih kemenangan.

"Pertama keputusan itu telat. Seharusnya BWF koordinasi penuh dengan NHS soal kebijakan, jadi semuanya diberitahu sejak awal. Ini kurang antisipasi, padahal beberapa pemain sudah bertanding. Kedua, service judge di pertandingan Hendra-Ahsan melawan tuan rumah Inggris justru berasal dari tuan rumah. Ini tidak boleh, dan ketiga adalah fakta mengapa ada pemain yang satu penerbangan dengan tim Indonesia masih diizinkan bermain. Tiga hal ini perlu transparansi," ujar Joko kepada Warta Kota, Kamis (18/3/2021).

Baca juga: Kontingen Indonesia Dipaksa Mundur, Kurniahu Gideon Ayah Marcus Fernaldi Gideon Sindir BWF

Joko pun mendukung langkah PBSI yang meminta kejelasan, dan keterbukaan.

Menurutnya, klarifikasi begitu penting dan mesti dilakukan dengan langkah-langkah terukur.

"Protes dan langkah tegas boleh, apalagi prosesnya lewat aturan-aturan yang tepat bagaimana antar lembaga sesuai dengan tupoksi masing-masing bisa meminta kejelasan soal ini. Pasti pihak Dubes kita juga nanti menjelaskan informasi resminya, berkaitan dengan otoritas dan kebijakan disana, dan kita tunggu," katanya.

Jika sudah ada transparansi, dan PBSI ingin mengambil langkah kebih lanjut, Joko menyarankan agar semuanya seiya sekata mencari keadilan.

"Perlu diketahui, BAC (badminton asia confederation) juga ada, dan PBSI bisa koordinasi juga supaya lebih kuat nantinya. Bagaimana pun, hal-hal seperti ini demi sportivitas dan kemajuan bulu tangkis itu juga," ujarnya.

Baca juga: Tim Indonesia Dipaksa Mundur dari All England, Ketum PBSI: Kita Kandidat Juara

Sebelumnya, kontingen Indonesia dipaksa mundur karena saat penerbangan dari Istanbul ke Birmingham, Sabtu (13/3/2021) lalu, terdapat satu penumpang yang terkena Covid-19 yang disebut telah berinteraksi dengan tim Indonesia.

Meskipun tim Indonesia seluruhnya dalam kondisi sehat dan negatif dari Covid-19, NHS justru mewajibkan Indonesia isolasi 10 hari di hotel dan dipaksa out dari turnamen All England. (WARTA KOTA/Rafsanzani Simanjorang)

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved