Muncul Hotel di Perumahan, Warga Anggrek Loka BSD Serpong Resah: Kami Anak yang Kehilangan Induk

Warga RW 12 Perumahan Anggrek Loka BSD, Serpong, Tangerang Selatan (Tangsel) resah lantaran berdirinya sejumlah hotel di lingkungan perumahannya.

Penulis: Jaisy Rahman Tohir | Editor: Wahyu Septiana
TRIBUNJAKARTA.COM/JAISY RAHMAH TOHIR
Perumahan Anggrek Loka BSD, Serpong, Tangerang Selatan (Tangsel), Senin (22/3/2021). Warga RW 12 Perumahan Anggrek Loka BSD, Serpong, Tangerang Selatan (Tangsel) resah lantaran berdirinya sejumlah hotel di lingkungan perumahannya. 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Jaisy Rahman Tohir

TRIBUNJAKARTA.COM, SERPONG - Warga RW 12 Perumahan Anggrek Loka BSD, Serpong, Tangerang Selatan (Tangsel) resah lantaran berdirinya sejumlah hotel di lingkungan Perumahannya.

Wakil Ketua RT 2 RW 12, sekaligus juru bicara warga, Rafael David, mengatakan, mayoritas warga Perumahan mewah itu menyatakan penolakannya atas kehadiran setidaknya lima hotel yang berdiri dalam kurun waktu lima tahun belakangan.

Selain itu, ada juga indekos yang menyewakan tempat tinggal harian. 

Rafael menjelaskan, perumahan Anggrek Loka merupakan wilayah residensial atau hunian, bukan wilayah komersial.

Terlebih dengan keberadaan hotel tersebut membuat banyak orang asing yang masuk ke kompleks. 

Ia mengkhawatirkan potensi kejahatan yang muncul.

Baca juga: Beredar Kabar Irwansyah Meninggal Dunia, Begini Respon Suami Zaskia Sungkar Menanggapinya

Baca juga: Kebesaran Hati Istri Dibakar Suami, Sebelum Meninggal Sudah Memaafkan Pelaku: Yang Sudah, Ya Sudah

"Dalam lima enam tahun ini mereka masif berubah, terutama dua tahun ini, ada Reddoorz, ada Doesnami rumah syariah."

"Parkir yang tidak disediakan bangunan itu mulai meluber ke jalan dan mengganggu warga. Beruntung masih ada kavling kosong, bagaimana kalau semua itu dibangun, kami akan sangat terganggu. Belum lagi gangguan keamanan yang sangat potensial terjadi," papar Rafael, Senin (22/3/2021).

Rafael mengatakan, pihaknya berharap Pemerintah Kota (Pemkot) Tangsel bisa turun tangan menindaklanjuti keluhan warga.

"Sangat, sangat resah, karena kami merasa anak yang kehilangan induk, harus ada kejelasan dan keberpihakan, melaksanakan fungsinya, zona residensial untuk residensial, bukan untuk komersial," jelasnya. 

Tiga tahun lalu, pihak Pemkot sudah sempat bermediasi dengan warga, namun penjelasan yang diberikan tidak memuaskan, dan pendirian hotel kembali terjadi setelah pertemuan itu.

"Tiga tahun lalu, kami menanyakan hal yang sama, namun tidak ada jawaban yang definitif," pungkas Rafael.

Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved