Breaking News:

Menelusuri Asal Muasal Kapal yang Mencuri 21,5 Ton Solar di Tuban

Sebenarnya siapa pemilik atau pihak yang menguasai kapal tanker itu di kasus pencurian solar Pertamina di perairan Tuban, Jawa Timur

ISTIMEWA
Operasi tangkap tangan pencurian BBM di perairan Tuban oleh tim Ditpolairud Korpolairud Baharkam Polri.  

TRIBUNJAKARTA.COM – Kasus pencurian solar Pertamina di perairan Tuban, Jawa Timur, menggunakan kapal MT Putra Harapan masih menjadi perhatian. 

Sebenarnya siapa pemilik atau pihak yang menguasai kapal tanker itu?

Berdasarkan penelusuran data di Kementerian Perhubungan melalui situs dephub.go.id, kapal MT Putra Harapan, kapal jenis tramper, muatan kapal biodiesel (B30), bahan bakar minyak, high speed diesel, marine diesel fuel, marine fuel oil.

Masa izin berlaku mulai 28 Desember 2020 hingga 27 Maret 2021.

Baca juga: Komplotan Pencuri Solar di Perairan Tuban Tertangkap, Warga Awalnya Curiga Para Pelaku Kaya Mendadak

Menurut Pakar transportasi laut dari ITS Ir. Tri Achmadi PhD, data kapal tidak bisa dibohongi karena tercatat di Kemenhub, BKI, IMO, asuransi, perbankan, galangan kapal, serta bisa diakses dengan mudah oleh publik.

“Kapal itu pasti bertuan dan datanya mudah dilacak, apalagi di jaman digital sekarang. Prosedur kepemilikan kapal juga sangat rigid. Tidak semudah itu berkelit kapal bukan punya kami karena datanya pasti terdokumentasi dan mudah dibuktikan secara hukum,” kata Tri kepada wartawan, Selasa (23/3/2021).

Menurutnya, ketentuan registasi kapal sudah diatur melalui Peraturan Menteri Perhubungan RI No. 39 Tahun 2017 tentang Pendaftaran dan Kebangsaan Kapal.

Baca juga: Eks Tenaga Kontrak Pertamina Terlibat Pencurian 21 Ton BBM di Perairan Tuban, 4 Pelaku Masih Buron

Tri memastikan operasional kapal ada prosedurnya, pasti ada izin korporasi dan Syahbandar karena kapal adalah objek hukum.

"Tidak mungkin kapal jalan atas mau-maunya nahkoda. Apalagi membajak kapal sendiri dan bersekongkol dengan semua ABK,” ujarnya.

Tri menambahkan, kasus pencurian BBM Pertamina itu tergolong pidana serius karena melanggar prosedur keselamatan (Health, Safety, Environment) di sektor migas yang ketat.

Sebab jika terjadi insiden bisa mengancam lingkungan hidup dan jiwa manusia dalam skala besar.

Halaman
12
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved