Breaking News:

Mudik Dilarang, Sopir Bus AKAP: Utang di Warung Makin Menumpuk kalau Enggak Narik

Larangan mudik Idul Fitri 1442 Hijriah diberlakukan pemerintah pada 6-17 Mei 2021.

TribunJakarta.com/Bima Putra
Kondisi di area keberangkatan Terminal Kampung Rambutan, Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur, Jumat (9/4/2021). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, CIRACAS - Larangan mudik Idul Fitri 1442 Hijriah diberlakukan pemerintah pada 6-17 Mei 2021.

Hal itu membuat para sopir bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) di Terminal Kampung Rambutan, Jakarta Timur kalut.

Asep, satu sopir bus AKAP di Terminal Kampung Rambutan mengaku kelabakan memikirkan nasib keluarganya selama larangan mudik berlaku.

Sebab, ia tidak memiliki pemasukan lain dari sopir.

"Bingung mau cari duit dari mana lagi, sementara kita bisanya cuman narik bus doang. Apalagi utang di warung makan numpuk, kalau enggak narik utang bisa makin menumpuk," kata Asep di Terminal Kampung Rambutan, Jumat (9/4/2021).

Bukan tanpa sebab, semenjak pandemi Covid-19 melanda jumlah keberangkatan penumpang Terminal Kampung Rambutan anjlok sehingga mempengaruhi pemasukan para sopir bus AKAP.

Kondisi di area keberangkatan Terminal Kampung Rambutan, Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur, Jumat (9/4/2021).
Kondisi di area keberangkatan Terminal Kampung Rambutan, Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur, Jumat (9/4/2021). (TribunJakarta.com/Bima Putra)

Pasalnya mayoritas para sopir bus AKAP dibayar per hari oleh perusahaan otobus (PO) tempat mereka bekerja, hanya segelintir PO yang membayar sopir bus dengan sistem gaji per bulan.

"Sebelum mudik dilarang saja sudah sepi, gimana kalau mudik dilarang nanti. Pusing lah mikirinnya, padahal kita (sopir) berharap mudik ini bisa panen (pemasukan banyak), tapi enggak bisa," ujarnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved