Breaking News:

Ujian Profesi Advokat PERADI Diikuti Sebanyak 5.833 Peserta

Sebanyak 5.833 orang mengikuti Ujian Profesi Advokat (UPA) yang digelar Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI) Prof. Dr. Otto Hasibuan

Istimewa
Sebanyak 5.833 orang mengikuti Ujian Profesi Advokat (UPA) yang digelar Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI) Prof. Dr. Otto Hasibuan pada awal tahun 2021 secara serentak di 44 kota 

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Sebanyak 5.833 orang mengikuti Ujian Profesi Advokat (UPA) yang digelar Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI) Prof. Dr. Otto Hasibuan pada awal tahun 2021 secara serentak di 44 kota, mulai dari Lhokseumawe, Aceh; hingga Jayapura, Papua.

Ketua Umum (Ketum)‎ DPN PERADI, Prof. Dr. Otto Hasibuan, saat meninjau UPA di Jakarta Convention Center (JCC), Sabtu (10/4/2021), mengatakan, salut karena ribuan calon advokat mengikuti ujian untuk menjadi advokat di organisasi yang dipimpinnya. "Saya salut," ucapnya.

‎Selain itu, Otto juga mengaku bangga karena jumlah ini menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga yang dipimpinnya. Pasalnya, di luar sana banyak organisasi yang katanya memberikan kemudahan atau jaminan lulus menjadi advokat.

Otto mengungkapkan, tahapan untuk menjadi advokat di organisasinya dilakukan super ketat. "Meskipun dibuat sangat ketat, mereka tetap mengikuti pendidikan dan ujian yang kita buat ini," ujarnya.

‎Ibarat barang, dikatakan Otto, kalau kualitasnya bagus, maka akan sendirinya dicari orang. Penjualannya pun dijajakan di mal-mal mewah dan tidak diobral. Tetap tingginya animo untuk menjadi advokat ini merupakan buah dari penerapan regulasi yang ketat dalam menyeleksi calon advokat demi mengasilkan pengacara andal, baik dari segi keilmuan dan etika profesi.

Otto menceritakan, di awal UPA PERADI, pihaknya sempat didemo karena dari ‎12 ribu orang yang ikut ujian, hanya sekitar 9 persen yang dinyatakan lulus. Tetapi pihaknya tak bergeming, yakni tetap menerapkan standar kelulusan yang tinggi demi menjaga marwah profesi advokat dan melayani para pencari keadilan.

"‎Kami tidak berubah, kami tidak mau menyerah, saya minta mereka yang berubah, supaya mereka belajar. Bukan kami yang harus menurunkan standar," ujarnya.

Baca juga: Diduga Catut Nama Pejabat Kejagung, Advokat Natalia Rusli Dilaporkan ke Polda Metro Jaya

Baca juga: Bantuan Hukum ke Rakyat Kecil Jadi Salah Satu Program Prioritas Peradi Kepimimpinan Otto Hasibuan

Konsistensi penerapan standar tersebut akhirnya membuat peserta berubah dan belajar agar memenuhi standar kompetensi yang telah digariskan. Kenaikan kelulusan pun terus meningkat, dari 9 persen ke 15 persen, 18 persen, 50 persen hingga bahkan sampai 91 persen.

"Ini berarti kemajuan yang besar. Kami lihat nilainya pun semakin bagus. Dulu walaupun (angka kelulusan) 50 persen, tapi (nilainya) pas-pasan.‎ Sekarang sudah lewat daripada standar," tuturnya.

Penyelenggaraan ujian dilakukan sangat ketat. Pihaknya akan langsung mendiskualifikasi peserta yang tidak menaati aturan, seperti mencontek‎. Sikap tegas mendiskualifikasi juga berhasil menurunkan angka kecurangan saat ujian.

Halaman
12
Editor: Muhammad Zulfikar
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved