Breaking News:

Kolaborasi Bersama Nelayan Demi Penyelamatan Burung Angin di Teluk Jakarta

Teluk Jakarta merupakan salah satu lokasi mencari makan dan beristirahat bagi burung laut, satu diantaranya adalah jenis Cikalang Christmas.

Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Istimewa/ Fransisca Noni
Burung Cikalang Christmas 

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Wilayah Indonesia terdiri dari 74% lautan sehingga menjadikannya sebagai salah satu negara yang paling penting bagi burung laut untuk bermigrasi di Asia Tenggara dan Asia-Timur Australia.

Saat ini diketahui ada 65 jenis burung laut yang menggunakan perairan Indonesia untuk mencari makan dan beristirahat.

Beberapa di antaranya dilindungi oleh aturan perlindungan internasional dan nasional, karena ancaman yang dihadapi oleh burung-burung laut yang membuat populasinya menurun.

Teluk Jakarta merupakan salah satu lokasi mencari makan dan beristirahat bagi burung laut, satu diantaranya adalah jenis Cikalang Christmas (Fregata andrewsi).

Warga setempat biasa menyebutnya burung angin.

Jenis ini termasuk ke dalam 20 jenis burung laut yang dilindungi oleh pemerintah Indonesia, sedangkan dalam IUCN Red List of Threatened Species, jenis tersebut masuk kategori kritis yang merupakan kategori keterancaman tertinggi.

Diskusi Kolaborasi Bersama dalam Melindungi Burung Laut di Teluk Jakarta
Diskusi Kolaborasi Bersama dalam Melindungi Burung Laut di Teluk Jakarta (Istimewa/ Khaleb Yordan)

Pengendali Ekosistem Hutan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jakarta Rizki Prima menuturkan bahwa Suaka Margasatwa Pulau Rambut yang berada di Teluk Jakarta menjadi salah satu habitat bagi burung angin.

“Burung angin di Teluk Jakarta hanya menetap sementara dan tidur di pohon-pohon yang ada di Suaka Margasatwa Pulau Rambut. Jenis ini ada di Teluk Jakarta hingga Muara Angke untuk mencari makan,” jelas Rizki dalam keterangan tertulis, Selasa (13/4/2021).

Sayangnya, burung yang memiliki warna bulu hitam, dengan corak putih pada bagian bawah tubuh dan paruh seperti kait memiliki ancaman.

Peneliti Burung Laut Indonesia Boas Emmanuel mengungkapkan bahwa hasil penelitian yang dilakukan sejak 2010 mencatat bahwa ancaman tersebut diantaranya tidak sengaja tersangkut di alat tangkap nelayan, diracun, atau diburu.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved