Breaking News:

Sisi Lain Metropolitan

Rumah Bersejarah Milik Mendiang Achmad Soebardjo Dijual Senilai Rp200 Miliar, Ini Kata Keluarga

Rumah mendiang Menteri Luar Negeri pertama RI, Achmad Soebardjo dijual seharga Rp 200 miliar dengan luas 2.916 meter dan luas bangunan 1.676 meter.

TRIBUNJAKARTA.COM/SATRIO SARWO TRENGGINAS
Tampak depan rumah bergaya kolonial milik Menteri Luar Negeri Pertama Achmad Soebardjo pada Sabtu (17/4/2021). Rumah mendiang Menteri Luar Negeri pertama RI, Achmad Soebardjo dijual seharga Rp 200 miliar dengan luas 2.916 meter dan luas bangunan 1.676 meter. 

Tak berselang lama, Ibu Laksmi menghampiri saya. Anak sulung dari lima bersaudara ini bersedia menggali kembali kenangan kala ayahnya membeli rumah ini.

Dibeli dari Orang Belanda

Kala itu, kenang Laksmi, keluarga Achmad Soebardjo tinggal di Jalan Palem, Menteng, Jakarta Pusat. Disana mereka menyewa sebuah rumah tinggal.

Kemudian ketika Jepang mengambil alih pemerintahan Belanda pada tahun 1942, keluarga mereka mulai mencari rumah tinggal baru.

Saat Jepang masuk, banyak orang-orang Belanda yang ditahan dan dijebloskan ke dalam kamp interniran. Peristiwa itu menyebabkan banyak rumah-rumah yang dihuni orang Belanda kosong. 

Baca juga: Ini Akibatnya Jika Nekat Curi Start Mudik Lebaran, Siap-siap Bakal Dikarantina Selama 5 Hari

"Waktu Jepang masuk, itu banyak rumah yang kosong karena Belanda-Belanda (orang) dipenjara sama Jepang. Jadi banyak rumah kosong," ungkapnya kepada TribunJakarta.com Jumat (16/4/2021).

Laksmi melanjutkan Achmad Soebardjo dan anak-anaknya kemudian berkeliling melihat-lihat sejumlah rumah yang kosong itu. Mendiang Achmad Soebardjo memutuskan untuk pindah lantaran rumah yang ditempatinya saat itu lebih kecil.

Sampai suatu ketika, mereka menemukan sebuah rumah kosong berlanggam kolonial era 1800-an di tepi Jalan Cikini Raya. Mereka pun menambatkan hati kepada rumah itu.

"Lalu kita jalan-jalan ke sini (kawasan Cikini) lihat-lihat rumah, rumah ini satu-satunya yang kosong," lanjutnya.

Awalnya, Achmad Soebardjo belum membeli rumah itu. Ia baru menyewa kepada pemiliknya, seorang Belanda

Laksmi tak ingat nama orang Belanda itu. Yang jelas, rumah ini sudah dibangun sejak tahun 1800-an dan sudah dihuni beberapa kali oleh orang asing.

Baca juga: Pemain Saling Sindir di Luar Lapangan, Duel Persija Vs PSM Semakin Panas: Heran, Kok Dia Benci Betul

Keluarga Achmad Soebardjo menyewa rumah itu sampai sekitar tahun 1960-an. Setelah itu, pemiliknya memutuskan untuk menjualnya kepada Achmad Soebardjo.

"Orang Belanda itu mau jual, terus kita beli rumahnya," tambahnya.

Laksmi menuturkan ketika ayahnya diangkat menjadi Menteri Luar Negeri, Soebardjo membelinya dengan cara mencicil lantaran pemiliknya akan pulang ke Belanda.

Akhirnya, rumah itu pun lunas dan menjadi rumah keluarga Achmad Soebardjo sampai sekarang.

Tampak depan rumah bergaya kolonial milik Menteri Luar Negeri Pertama Achmad Soebardjo pada Sabtu (17/4/2021).
Tampak depan rumah bergaya kolonial milik Menteri Luar Negeri Pertama Achmad Soebardjo pada Sabtu (17/4/2021). (TRIBUNJAKARTA.COM/SATRIO SARWO TRENGGINAS)

"Ayah saya enggak mau minta rumah kepada pemerintah. Kami anak-anaknya yang sudah bisa kerja membantu juga mencicil atau urunan. Jadi waktu itu masih murah ya harganya," kenangnya.

Ada banyak sekali kenangan yang tak bisa dibeberkan satu per satu oleh Laksmi tentang rumah ini kepada TribunJakarta.com lantaran waktu yang terbatas.

Penulis: Satrio Sarwo Trengginas
Editor: Wahyu Septiana
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved