Breaking News:

Ziarah Makam

Sosok Mbah Datuk Banjir, Ulama Pejuang Pencetus Nama Lubang Buaya

Siapa pencetus Lubang Buaya? Adalah sosok almarhum Mbah Datuk Banjir Pangeran Syarif Hidayatullah, seorang alim ulama besar. Ini kisahnya.

TRIBUNJAKARTA.COM/BIMA PUTRA
Makam Mbah Datuk Banjir Pangeran Syarif Hidayatullah di Cipayung, alim ulama pencetus nama Lubang Buaya, Jakarta Timur, Sabtu (17/4/2021). 

"Memang di Kali Sunter itu ada penguasanya zaman dulu. Ya selain buaya-buaya biasa ada penguasa gaib yang disebut siluman buaya putih," ujarnya.

Merujuk keterangan leluhurnya, buaya putih penguasa Kali Sunter tersebut dikisahkan bernama Pangeran Gagak Jakalumayung yang memiliki anak berjuluk Mpok Nok.

Mpok Nok berwujud buaya tanpa ekor atau disebut warga buaya buntung.

Baca juga: Kisah Masyhur Habib Kuncung yang Jenazahnya Sempat Tak Bisa Diangkat, Ini Alasannya

Mbah Datuk Banjir Pangeran Syarif Hidayatullah pun lalu berkelahi dengan keduanya.

"Mbah Datuk Banjir kan datang kemari sebagai pendatang. Masuk di kampung ini berhadapan dengan halangan-halangan daripada jin, penguasa Kali Sunter. Akhirnya bisa ditaklukkan dan akhirnya bisa dijadikan, bahasa kasarnya santrinya lah," tuturnya.

Keturunan kesembilan Mbah Datuk Banjir Pangeran Syarif Hidayatullah, Yanto Wijoyo (45) saat memberi keterangan di Cipayung, Jakarta Timur, Sabtu (17/4/2021)
Keturunan kesembilan Mbah Datuk Banjir Pangeran Syarif Hidayatullah, Yanto Wijoyo (45) saat memberi keterangan di Cipayung, Jakarta Timur, Sabtu (17/4/2021) (TRIBUNJAKARTA.COM/YUSUF BACHTIAR)

Setelah menaklukkan 'penguasa' Kali Sunter, Mbah Datuk Banjir mencetuskan nama Lubang Buaya, kala itu nama tersebut mengacu pada kampung.

Dalam menyebarkan agama Islam, Mbah Datuk Banjir disambut baik warga setempat yang kala itu bertani padi sebagai profesi utamanya.

Warga Lubang Buaya diajarkan ilmu bela diri untuk melawan penjajah Belanda yang datang menaklukkan Jakarta.

"Mbah Datuk Banjir secara enggak langsung melindungi Kampung Lubang Buaya ini dengan bentuk kesakitan dan karmahnya. Sehingga kampung ini terlihat seperti laut, tidak bisa diinjak penjajah Belanda, enggak bisa masuk," lanjut Yanto.

Dikisahkan, Mbah Datuk Banjir memiliki sejumlah senjata pusaka yang digunakan untuk berperang.

Halaman
1234
Penulis: Bima Putra
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved