Breaking News:

Antisipasi Virus Corona di Depok

Sepekan Puasa,Tak Ada Klaster Baru dari Digelarnya Salat Tarawih di Kota Depok

Dadang mengatakan pihaknya menemukan kluster baru yang mana bersumber dari warga yang melakukan kegiatan rekreasi.

GETTY IMAGES via BBC INDONESIA
Ilustrasi Tidak ada klaster baru Covid-19 dari digelarnya salat tarawih selama satu pekan pertama bulan ramadan tahun ini 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Dwi Putra Kesuma

TRIBUNJAKARTA.COM, PANCORAN MAS – Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Depok, Dadang Wihana, mengatakan, tidak ada klaster baru Covid-19 dari digelarnya salat tarawih selama satu pekan pertama bulan ramadan tahun ini.

“Sementara ini sampai dengan saat ini belum ditemukan klaster dari kegiatan tarawih di Kota Depok ya, jadi belum ada,” ujar Dadang dikonfirmasi wartawan, Selasa (20/4/2021).

“Mudah-mudahan ini warga ketat melakukan prokes (protokol kesehatan),” timpalnya lagi.

Kendati demikian, Dadang mengatakan pihaknya menemukan kluster baru yang mana bersumber dari warga yang melakukan kegiatan rekreasi.

“Yang ada itu klaster rekreasi, ada di salah satu Kelurahan mereka melakukan rekreasi ke suatu tempat, mereka terpapar (Covid-19),” tuturnya.

Guna mengawasi kegiatan ibadah di tengah pandemi bulan ramadan ini, Dadang mengatakan bahwa aparat baik itu dari Polri, TNI, dan Satpol PP, rutin melakukan pengawasan di tingkat Kecamatan Hingga Kelurahan.

Baca juga: Ketumpahan Minyak Tanah saat Bermain Meriam Bambu, Bocah 6 Tahun di Lampung Tewas

Baca juga: Catat Sederet Amalan Penuh Pahala bagi Wanita Haid di Bulan Ramadan, Banyak Keberkahan!

Baca juga: Bentuk Posko THR, Pemprov DKI: Perusahaan Tak Mampu Bisa Ajukan Permohonan

“Satpol PP, TNI, Polri di tingkat kecamatan dan kelurahan  itu senantiasa turun kelapangan untuk  mengingatkan protokol kesehatan. Mayoritas mereka mengikuti prokes tapi ada juga, secara mayoritas mematuhi,” imbuhnya.

“Yang harus dilakukan antisipasi itu tadi frekuensi setiap hari dan waktu yang digunakan terlalu lama ini yang harus dievaluasi. Jadi dalam surat edaran penyelenggaraan ramadan, misalnya kultum maksimal sepuluh menit, bukan kita membatasi kegiatan keagamaan. Bukan kita membatasi tapi dilakukan pengaturan,” pungkasnya.

Penulis: Dwi Putra Kesuma
Editor: Erik Sinaga
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved