Hardiknas 2021, Pendidikan Tangsel Menuju Merdeka Belajar, Memandang Setiap Siswa Unik

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Tangsel, Taryono, mengatakan, prokes harus terus diterapkan agar belajar tatap muka di sekolah bisa berjalan

Penulis: Jaisy Rahman Tohir | Editor: Wahyu Septiana
TRIBUNJAKARTA.COM/JAISY RAHMAN TOHIR
Kepala Dindikbud Tangsel, Taryono, saat ditemui di ruangannya, di Kantor Pemkot Tangsel, Jalan Maruga, Ciputat, Selasa (24/3/2020) - Taryono, mengatakan, prokes harus terus diterapkan agar belajar tatap muka di sekolah bisa berjalan 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Jaisy Rahman Tohir

TRIBUNJAKARTA.COM, CIPUTAT - Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2021 masih diperingati pada situasi pandemi Covid-19, seperti tahun sebelumnya.

Protokol kesehatanpun masih menjadi kata kunci dalam peringatan hari lahir sang guru bangsa Ki Hajar Dewantara itu, tak terkecuali di Tangerang Selatan ( Tangsel ).

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Tangsel, Taryono, mengatakan, protokol kesehatan harus terus diterapkan agar belajar tatap muka di sekolah bisa digelar.

"Sehingga apa yang diinginkan semua pihak untuk segera PTM terbatas bisa dilaksanakan, yang kedua hal yang penting juga sesuai program pemerintah pusat yaitu Merdeka Belajar," ujar Taryono melalui sambungan telepon, Minggu (2/5/2021).

Taryono juga mengatakan, Hardiknas kali ini diperingati untuk memantapkan program Merdeka Belajar yang dicanangkan pemerintah pusat.

Kepala Dindikbud Tangsel, Taryono, di Serpong, Sabtu (29/8/2020).
Kepala Dindikbud Tangsel, Taryono, di Serpong, Sabtu (29/8/2020). (TRIBUNJAKARTA.COM/JAISY RAHMAN TOHIR)

Taryono menjelaskan, yang dimaksud Merdeka Belajar adalah pola pendidikan dengan sudut pandang bahwa setiap siswa adalah unik.

Setiap siswa memiliki kelebihan dan minatnya masing-masing tanpa harus disamakan serta dibandingkan satu sama lain. 

Baca juga: Gubernur Anies Ngaku Kecolongan, Pengunjung Pasar Tanah Abang Naik 2 Kali Lipat:Lonjakan Tak Terduga

Baca juga: Mall di Depok Padat Pengunjung Jelang Idul Fitri, 2 Tempat Kelebihan Kapasitas

Baca juga: Mencium Aroma Masakan Tak Batalkan Puasa, Simak Penjelasan Lengkap dari Buya Yahya

"Sudah saatnya memberikan kebebasan kemandirian bagi anak-anak kita, putra-putri kita untuk memenuhi apa yang diinginkan sesuai minat dan bakatnya."

"Inipun menjadi perhatian kita di dunia pendidikan agar melihat sosok peserta didik itu manusia yang memiliki kekhususan, setiap anak itu unik, memiliki kecerdasan masing-masing, tidak bisa dibandingkan anak yang satu dengan yang lain," paparnya. 

Selain para peserta didik yang merdeka bertumbuh berdasarkan cita-citanya, sekolahpun memiliki otonominya sendiri.

Taryono menyebut sekolah bisa memiliki sistem pengajaran dan penilaiannya sendiri. 

"Jadi sekolah biarkan sekolah memilih dan mengembangkan metode pembelajaran yang sesuai, biarkan sekolah memilih dan mengembangkan metode penilaian, biarkan guru memilih metode pembelajaran yang dilakukan dalam rangka untuk pelaksana pembelajaran," ujarnya. 

Upaya menuju Merdeka Belajar, menurut Taryono, sudah mulai dijalankan di Tangsel.

Baca juga: Gubernur Anies Ngaku Kecolongan, Pengunjung Pasar Tanah Abang Naik 2 Kali Lipat:Lonjakan Tak Terduga

Salah satunya terkait rapor yang tidak lagi menunjukkan urutan nilai atau ranking siswa.

"Kita sudah mengarah ke sana, banyak hal lah, termasuk bagaiman rapor yang dikembangkan sekarang, tidak ada ranking kelas, karena anak yang satu tudak bisa dibandingkan dengan anak yang lainnya," pungkasnya.

Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved