Breaking News:

FKPI Tagih Janji Kebijakan Impor Indukan Ayam Berpihak kepada Peternak UMKM

Komisi IV akan semakin detail dalam melihat dan memantau perkembangan industri perunggasan.

Tribunnews/Jeprima
Pekerja memilih ayam potong yang akan dijual di Agen Ayam Potong kawasan Cipinang Melayu, Jakarta Timur, Senin (19/10/2020). Peternak ayam broiler lokal mengaku kesulitan bersaing di pasar lantaran 90 persen pangsa pasar dalam negeri dikuasai asing yang dianggap memiliki modal besar yang dapat mengganggu stabilitas harga, Di antaranya dua perusahaan industri ayam asing asal Thailand dan perusahaan dengan kepemilikan saham asal Singapura, masing-masing sebanyak 40 persen dan 30 persen memegang pasar ayam nasional, serta 20 persen dikuasai perusahaan asing asal Tiongkok, Malaysia, dan Korea Selatan. 

TRIBUNJAKARTA.COM - Ketua Forum Komunikasi Pembibitan Indonesia (FKPI) Noufal Hadi mengingatkan komitmen Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, saat pertama kali diangkat, mengatakan akan berdiri bersama para peternak nasional.

Tapi, menurut Noufal kebijakannya belum berpihak pada peternak.

“Kebijakannya Menteri Pertanian terkait kuota impor Grand Parent Stock atau (GPS) indukan ayam masih berpihak pada perusahaan raksasa, peternak pembibitan Usaha Menengah Kecil (UMK) diabaikan,” ujar Noufal Hadi.

Padahal, menurut Noufal Hadi, integrator atau perusahaan perunggasan raksasa menguasai bisnis perunggasan dari hulu hingga ke hilir.

Mereka menguasai pembibitan ayam indukan broiler (pedaging) Grand Parent Stock (GPS), pakan, dan bahkan bermain pada budi daya.

Ini mengakibatkan peternak mandiri Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) mengalami kesulitan bibit ayam (DOC).

FKPI menuntut transparansi dari pelaksanaan surat Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) nomor B-15002/PK.010/F2.5/12/2020 tertanggal 15 Desember 2020, yang berisi kuota impor bibit ayam GPS mencapai 600.000 ekor pada 2021.

Dirinya khawatir soal praktek monopoli dalam penentuan harga DOC.

Peternak mandiri yang mengeluhkan tidak mendapat DOC membuktikan terjadi permasalahan pembagian kuota GPS.

Hal itu mengakibatkan DOC mahal dan langka di tingkat peternak mandiri.

Halaman
12
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved