Breaking News:

Tantangan Pendidikan Generasi Muda Saat ini, Ketua Umum TIDAR: Bukan Hanya Jadi Pintar, Tapi Cerdas

Ketua Umum Tidar Aryo Djojohadikusumo mengatakan, selain pendidikan formal anak muda saat ini harus mengenyam pendidikan informal

Editor: Muhammad Zulfikar
Istimewa
Dalam rangka memperingati hari Pendidikan Nasional, Tunas Indonesia Raya (TIDAR) organisasi sayap Partai Gerindra mengadakan event RADAR (Ragam Aktualiasi Tidar) dengan tema Pendidikan sebagai kunci generasi yang kokoh. 

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Dalam rangka memperingati hari Pendidikan Nasional, Tunas Indonesia Raya (TIDAR) organisasi sayap Partai Gerindra mengadakan event RADAR (Ragam Aktualiasi Tidar) dengan tema Pendidikan sebagai kunci generasi yang kokoh.

Ketua Umum Tidar Aryo Djojohadikusumo mengatakan, selain pendidikan formal anak muda saat ini harus mengenyam pendidikan informal. Tujuannya agar anak muda saat ini menjadi generasi yang pintar dan cerdas.

"Pendidikan formal bagi saya penting, tapi hal yang ada hubugannya dengan jadi diri kita tidak kalah penting, meskipun hari ini kita bicara tentang pendidikan sebagai kunci generasi yang kokoh, kita juga mau mengingatkan hal-hal, kan pendidikan IQ, saya juga mengingatkan jangan lupa EQ bagi anak-anak muda. komitmen ketekunan kesabaran juga engga kalah, tidak semua harus instan," kata dia dalam keterangannya, Jumat (7/5/2021).

Sementara Rektor Universitas Mahakarya Asia Ferro Ferizka mengatakan, dalam situasi dan kondisi saat ini, pendidikan tidak hanya dimaknai dengan sekolah saja.

"Pendidikan bagi saya adalah suatu proses pendewasaan, jadi kita maknai sebagai pendidikan formal dan informal. Pendidikan formal itu kan mulai dari SD dan seterusnya, wajib," kata Ferro.

Menurut dia, setelah mengeyam pendidikan baik formal maupun informal orang akan terbagi menjadi dua golongan. Yakni golongan orang yang pintar dan cerdas.

"Orang yang pintar adalah orang yang nilai akademisi bagus. orang cerdas adalah orang yang bisa melihat peluang. ada orang yang cerdas saja dan ada orang pintar," kata Ferro.

Dia mencontohkan orang yang cerdas adalah orang yang sukses namun tidak mengenyam pendidikan secara formal. Orang seperti banyak ditemukan di Indonesia. Kebanyakan mereka membuka usaha.

"Banyak pengusaha sukses mungkin tidak lulus SD, SMP, SMA dan seterusnya, bukan berarti mereka tidak mampu secara otak, mereka mampu tapi mereka cerdas, mereka bisa melihat kesempatan, mereka bisa meraih kesempatan. mereka bisa mencapai titik a ke titik b, tapi orang pintar hafal prosedur hafal ilmunya," kata dia.

Baca juga: Kumpulan Ucapan Selamat Hari Pendidikan Nasional 2021: Serentak Bergerak, Wujudkan Merdeka Belajar

Baca juga: Beasiswa LPDP 2021 Telah Dibuka, Ini Jadwal, Syarat, Cara Mendaftar hingga Proses Seleksinya

 

Sementara orang yang pintar belum tentu dia sukses secara finansial. "Yang saya miris adalah banyak profesor di bidang IT, tapi kalau berbicara software engginering atau kapan terakhir beliau membuat software, kadang-kadang mereka tidak pernah atau sama sekali tidak membuat software," kata dia.

Maka dari itu, dia menyarankan kepada anak muda saat ini jadilah orang yang pintar tetapi juga cerdas. Dengan demikian, orang tersebut dapat melewati setiap masalah dan tantangan yang dihadapi.

"Sebaiknya kita menjadi yang kedua-duanya, pintar, memiliki akademisi yang baik tapi juga cerdas. Artinya kita bisa melihat solusi dari setiap permasalahan, bukan melihat masalah dari setiap solusi," kata dia.

Apalagi kata dia, bagi anak yang hidup di era modern ini sangat mudah menjadi orang yang pintar. Tetapi belum tentu orang itu cerdas.

"Kalau kita bicara cerdas kita dapatkan dari lapangan, makanya pendidikan menurut saya di abad ini menjadi orang pintar itu gampang teman-teman, karena yang namanya pengetahuan tinggal melihat google selesai, mau tahu apa di google selesai. yang penting adalah mengasah critical thinking, critical thinking adalah bisa diasah ketika terbentur dengan kenyataan, konflik. Banyak orang tidak nyaman dengan konflik, permasalahan, padahal orang yang akan bertahan di masa depan adalah orang yang tertempa dari satu masalah ke masalah yang lain," kata dia.

"Nah untuk itu, sebagai anak muda tugas kita membangun karakter sebagai anak muda adalah pendidikan sebaik-baiknya, tetapi eksposelah diri kita sebanyak-banyaknya dengan kesempatan, ekspose diri kita sebanyak-banyaknya dengan masalah. karena dengan masalah membuat kita semakin pandai mencari solusi. nanti semakin kita sering ketemu dengan masalah, maka semakin kita melihat pola bagaimana kita menyelesaikan masalah tersebut. Hingga ke depan kita bisa melihat masalah menjadi efisien," kata dia.

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved