Breaking News:

Polisi Lepaskan HL Pembuat Konten yang Menghina Palestina, Ini Penjelasan Polri

Polri akhirnya memutuskan tidak melanjutkan penanganan perkara HL (23), yang ditangkap usai membuat konten provokasi Palestina.

Editor: Erik Sinaga
Tribunnews.com/Theresia Felisiani
Kabag Penum Mabes Polri, Kombes Ahmad Ramadhan di Bareskrim Polri, Senin (18/5/2020). 

TRIBUNJAKARTA.COM- Polri akhirnya memutuskan tidak melanjutkan penanganan perkara HL (23) warga Kecamatan Gerung, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), yang ditangkap usai membuat konten provokasi Palestina.

Diketahui, HL akhirnya dibebaskan usai penyidik Polri mempertimbangkan menyelesaikan kasus tersebut secara musyawarah atau pendekatan restorative justice.

Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Pol Ahmad Ramadhan menyampaikan alasan Polri sempat menangkap HL dalam kasus itu.

Yang pertama, HL dikhawatirkan menjadi korban amukan massa.

"Penyidik atau pihak kepolisian selain menangkap tentunya adalah upaya untuk mengamankan yang bersangkutan dari amarah warga. Tentunya penangkapan itu dilakukan untuk amankan yang bersangkutan," kata Ahmad di Mabes Polri, Jakarta, Kamis (20/5/2021).

Selanjutnya, Ahmad menjelaskan pertimbangan Polri sempat menangkap pelaku lantaran konten yang diunggah HL viral dan memicu kemarahan masyarakat sekitar.

Baca juga: Konflik Palestina-Israel Bukan Hanya Soal Agama, Guru Besar UI: Sangat Kompleks

Atas dasar itu, kata dia, polisi menangkap HL demi mengantisipasi adanya konflik antara masyarakat akibat unggahan HL.

"Polri utamakan pengamaman terhadap orang tersebut dan pengamanan untuk tidak terjadinya peristiwa misalnya perpecahan di antar masyarakat," tukas dia.

Sebelumnya, Polri akhirnya memutuskan tidak melanjutkan penanganan perkara HL (23) warga Kecamatan Gerung, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), yang ditangkap usai membuat konten provokasi tentang Palestina.

Kabid Humas Polda NTB, Kombes Pol Artanto menyampaikan pemberhentian penanganan perkara itu setelah Polri melakukan gelar perkara untuk menyelesaikan kasus secara restorative justice atau musyawarah.

Baca juga: Siswi SMA Bengkulu yang Hina Palestina Berakhir DO, KPAI Beri Kritik: Bukan Penyelesaian Terbaik

Halaman
12
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved