Kowani: Perempuan Indonesia, Ibu Bangsa Jadi Garda Depan Pertahanan Antisipasi Lonjakan Covid-19

Ketua Kowani, Giwo Rubianto mengatakan perempuan, khususnya para ibu, memegang peranan sentral dan penting mencegah penyebaran virus corona

Editor: Wahyu Aji
Ketua Umum Kowani, Giwo Rubianto Wiyogo menjadi narasumber dalam Webinar Antisipasi Lonjakan Kasus Covid-19 Pasca Arus Balik. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Kowani, Giwo Rubianto mengatakan perempuan, khususnya para ibu, memegang peranan sentral dan penting mencegah penyebaran virus corona atau Covid-19, pasca arus balik libur Lebaran.

Meningkatnya kasus baru virus corona di tanah air harus menjadi peringatan bagi semua, demi menghindari lonjakan kasus.

"Perempuan Indonesia adalah ibu bangsa, perempuan ibu pendidik utama mendidik generasi penerus, sebagai garda pertahanan, pengingat, penjaga anggota keluarga waspada disiplin akan protokol kesehatan terutama upaya pencegahan dan pemutusan mata rantai Covid-19," ujar Giwo dalam webinar bertema Antisipasi Lonjakan Kasus Covid-19 Pasca Arus Balik, Senin (24/5/2021).

Menurutnya, perempuan juga berperan sebagai garda terdepan dalam keluarga.

"Perempuan punya peran penting dalam ketahanan keluarga dan masyarakat untuk hidup berdampingan dengan Covid-19," ujarnya.

Giwo menuturkan pengalaman pribadinya saat asisten rumah tangga tetap mudik Lebaran, dan saat ini positif Covid-19.

"Bagaimana hindari dan antisipasi ART pulang mudik masih bandel karena mau nunjukin kepada orangtua, kini mereka positif Covid-19," kata Giwo.

"Sebagai contoh saya sebagai pemimpin organisasi diminta jadi narasumber offline, mengajak bertemu makan-makan karena sudah lama tidak bertemu, ada juga undangan perkawinan, tapi saya tetap punya prinsip bahwa dalam masa pandemi kalau enggak perlu banget, penting banget keluarga menikah baru datang. Harus waspada selektif dan filter orang yang akan bertemu," katanya.

Diketahui, Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 melibatkan kaum ibu rumah tangga dalam memperkuat pertahanan keluarga untuk mencegah penularan Covid-19 usai tradisi mudik Lebaran 2021.

"Dalam Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat berskala mikro (PPKM Mikro) kita berharap peran ibu-ibu agar mendorong kontak 'tracing' dan 'testing' di tingkat kelurahan dan desa harus ditingkatkan," kata Ketua Bidang Penanganan Kesehatan Satgas Covid-19 Alexander Ginting dalam acara yang sama.

Menurutnya, mereka yang baru pulang medik atau datang dari daerah yang terjangkit, kata dia, diarahkan untuk karantina selama lima hari sejak kedatangan.

Bagi yang terkonfirmasi positif, harus diisolasi. Ia menjelaskan proses isolasi dapat menggunakan fasilitas di Wisma Atlet, Jakarta, khusus untuk yang bergejala ringan atau layanan isolasi terpusat lainnya.

Sementara bila terjadi pemburukan gejala, didorong menuju rumah sakit.

Dirinya menjelaskan, kaum ibu bersama perangkat RT/RW merupakan unsur terkecil dari bagian Satgas Covid-19 di desa/kelurahan.

Dia mengatakan sebanyak 1,5 juta orang mudik meninggalkan Jakarta, di mana 123.290 jiwa mengarah ke sejumlah daerah di Pulau Jawa dan 440 ribu ke arah Sumatera.

Situasi tersebut turut memicu peningkatan jumlah kasus Covid-19 di wilayah tujuan mudik.

"Ada banyak asisten rumah tangga (ART) dan keluarga yang pulang dari mudik, ternyata positif Covid-19. Ternyata dia tertular di kampungnya karena saat berkerumun karena silaturahmi atau tertular di jalan," katanya.

Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved