Wakil Ketua Komisi VIII DPR Diah Pitaloka: Pernikahan Bukan Solusi Buat Kasus Pemerkosaan

Tersangka pemerkosaan yang juga anak anggota DPRD Kota Bekasi, AT (21) berencana menikahi korbannya, PU (15).

Editor: Wahyu Aji
Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Diah Pitaloka 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tersangka pemerkosaan yang juga anak anggota DPRD Kota Bekasi, AT (21) berencana menikahi korbannya, PU (15).

Namun rencana tersebut ditolak oleh pihak keluarga korban.

Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Diah Pitaloka mendukung keputusan keluarga korban. Menurutnya, pernikahan bukan menjadi solusi atas kasus pemerkosaan.

"Pernikahan bukan solusi buat kasus pemerkosaan," katanya ketika diwawancarai di acara Pelantikan Kaukus Perempuan Parlemen Bali, Denpasar, Sabtu (29/5/2021).

Baca juga: Ditolak Mentah-mentah, Anak Anggota DPRD Bekasi Tetap Berniat Nikahi Korban Persetubuhan di Bekasi

Diah menegaskan, kasus pemerkosaan tidak bisa selesai dengan menikahkan korban dan pelaku.

Sebab proses hukum bagi pelaku pemerkosaan tetap harus berlanjut sampai ke meja hijau.

“Kasus ini harus diadili. Jangan sampai timbul di masyarakat, kasus pemerkosaan bisa selesai dengan menikahkan korban dan pelaku. Bahkan akan timbul permasalahan baru dengan pemaksaan perkawinan antara korban dan pelaku pemerkosaan,” tegasnya.

Politikus PDIP ini juga meminta pemerintah memberikan pendampingan terhadap korban, baik secara hukum maupun trauma healing.

Jangan sampai korban mendapatkan intimidasi dalam kasus yang menimpanya.

Baca juga: Tersangka Persetubuhan di Bekasi Berniat Nikahi Korban, Orangtua: Saya Nggak Akan Sudi

Baca juga: Orangtua Korban Persetubuhan Anak Anggota DPRD Kota Bekasi Tolak Rencana Pernikahan

Sebelumnya, tersangka AT (21), mengatakan bersedia menikahi korban PU (15).

Tersangka berdalih sayang korban dan ingin bertanggungjawab.

"AT mengaku sayang dan tulus sama PU. Ketika ditanya mau atau tidak dinikahkan, dia jawab bersedia. Karena (tersangka dan korban) saling sayang sebenarnya," kata kuasa hukum AT, Bambang Sunaryo.

Meski demikian, ia menegaskan hal ini tak serta merta membatalkan proses hukum terhadap tersangka.

Rencana pernikahan diakui Bambang merupakan bentuk tanggung jawab atas dosa yang diperbuat AT.

Namun keinginan tersebut ditolak mentah-mentah oleh orang tua korban. Ada beberapa pertimbangan keluarga menolak ajakan nikah dari tersangka.

Selain korban yang masih di bawah umur, pihak keluarga tidak ingin kasus kekerasan yang dilakukan tersangka kepada korban berulang jika keduanya menikah.

Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved