Breaking News:

Melihat dari Dekat Penyu Laut di Tempat Penangkaran Kepulauan Seribu, Berwisata Sekaligus Belajar

Bagi traveler yang tertarik berwisata sambil melihat lucunya penyu-penyu tersebut di penangkaran, datang saja ke Balai Taman Nasional Pulau Pramuka

Penulis: Pebby Ade Liana | Editor: Muhammad Zulfikar
TribunJakarta.com/Pebby Ade Liana
Penyu-penyu yang ada di tempat penangkaran, Pusat Suaka Penyu Pulau Pramuka, Balai Taman Nasional Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu. 

Laporan wartawan TribunJakarta.com, Pebby Adhe Liana

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Indonesia memiliki segudang keindahan alam. Salah satunya terlihat dari kekayaan ekosistem di bawah laut yang begitu menggoda.

Selain ada terumbu karang, adapula hewan-hewan unik yang hidup di laut Indonesia, salah satunya adalah penyu.

Bagi Tribunners yang ingin berwisata sambil belajar tentang penyu-penyu menggemaskan ini, bisa datang ke tempat-tempat penangkaran yang ada di beberapa lokasi.

TribunJakarta.com, berkesempatan mendatangi Pusat Suaka Penyu Pulau Pramuka, Balai Taman Nasional Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu.

Di sini, traveler bisa menyaksikan langsung bagaimana penyu-penyu menjalani perawatan sebelum akhirnya dilepaskan ke habitat aslinya.

"Penyu adalah salah satu satwa langka yang punya usia sangat panjang. Diantara beberapa pulau, Pulau Pramuka dan sekitarnya kita lakukan penyelamatan. Jadi telur penyu kami selamatkan dan dibawa ke sini. Apabila sudah menetas, kami lepaskan ke alam," kata Kusminardi kepala SPTN Wilayah III Pulau pramuka, ditemui baru-baru ini di Balai Taman Nasional Pulau Pramuka.

Penyu, termaksud satwa yang dilindungi oleh Pemerintah.

Sehingga, tidak bisa sembarang masyarakat memilikinya tanpa izin.

Ada beberapa jenis penyu yang hidup di Indonesia. Salah satunya, yang bisa ditemui di tempat penangkaran ini, adalah penyu sisik.

Penyu ini memiliki usia hidup yang cukup lama.

Banyaknya predator, menjadi ancaman yang besar bagi penyu-penyu yang hidup di alam bebas.

Mulai dari hewan-hewan liar seperti elang, atau biawak, sampai kepada manusia. 

Biasanya, manusia melakukan perburuan liar telur-telur penyu di pesisir pantai untuk dijual bebas, dan dikonsumsi.

Salah satu penyu yang barusaja dilepas ke habitat aslinya di Pulau Seribu.
Salah satu penyu yang barusaja dilepas ke habitat aslinya di Pulau Seribu. (TribunJakarta.com/Pebby Ade Liana)

Baca juga: Peran TCEC Serangan dalam Menjaga Populasi Penyu dan Upacara Keagamaan di Bali  

Baca juga: Kampung Jepang Jadi Lokasi Pencanangan HUT DKI, Diharapkan Bangkitkan Pariwisata Pulau Seribu

Itulah sebabnya, dilakukan tindakan penyelamatan oleh petugas konservasi terhadap telur-telur penyu di pantai.

"Jadi dari 1.000 itu kemungkinan hanya 1 yang hidup. Kenapa dilindungi? karena pertumbuhannya sangat kecil. Untuk bertahan hidup maka tetap harus ditangkarkan sampai mereka mampu untuk hidup, baru dilepaskan," kata dia.

Dijabarkannya, setidaknya dari 200 jumlah telur penyu di pantai kemungkinan ia dapat menetas dengan baik di habitat aslinya hanya sekitar 1:1000 saja.

Artinya, sangat kecil kemungkinan telur-telur tersebut bisa terselamatkan.

Hal ini, karena banyaknya predator yang ada di alam bebas. 

Namun, berdasarkan data Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu, telur penyu bisa menetas bahkan sampai 80 persen bila berada di penangkaran

Telur-telur penyu yang berada di pantai, dipindahkan ke tempat penangkaran sampai menetas.

Bila sudah menetas, selanjutnya akan dilakukan perawatan sampai penyu tersebut memiliki cangkang dan fisik yang kuat untuk menghadapi kehidupan di alam bebas.

"Kalau mereka sudah siap, baru akan kita lepas liarkan," tuturnya.

Meski begitu, ternyata tidak semua penyu yang ada dipenangkaran merupakan penyu-penyu yang baru menetas lho.

Menurut Kusminardi, penyu-penyu yang ada di tempat penangkaran tersebut ada juga penyu dewasa yang merupakan sitaan, atau titipan.

Artinya, penyu tersebut didapat dari warga yang memeliharanya tanpa izin atau secara ilegal.

Sehingga saat dilakukan pemeriksaan, didapati telah memelihara hewan yang dilindungi tanpa izin sehingga harus dibawa ke tempat penangkaran.

"Ada juga misalnya nelayan yang secara tidak sengaja ada penyu tersangkut di jaring mereka. Akhirnya mereka serahkan ke kita untuk dilakukan perawatan," imbuhnya.

Penyu-penyu tersebut, sama-sama melewati masa perawatan dan penguatan di penangkaran.

Berapa lama mereka menjalani karantina di sana, itu tergantung dengan kondisi penyu tersebut.

Misalnya, bila penyu tersebut sakit akibat tersangkut jaring, atau dinilai belum cukup kuat untuk menghadapi kehidupan di alam bebas, maka harus berada di penangkaran jauh lebih lama.

"Bisa seminggu, bisa dua minggu, atau sampai berbulan-bulan. Karena kalau dia kondisi gak sehat, dia akan mati karena gak siap untuk di alam bebas. Maka, kita pastikan dia dilepas sudah dalam kondisi siap dan kuat," jelasnya.

Bagi traveler yang tertarik berwisata sambil melihat lucunya penyu-penyu tersebut di penangkaran, datang saja ke Balai Taman Nasional Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu.

Untuk dapat ke sini, Anda bisa melewati perjalanan via laut dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam dari Dermaga Ancol. 

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved