Breaking News:

Peluncuran CYPR: Lingkungan Hidup & Pemberdayaan Pemuda Berkelanjutan dalam Konteks Bonus Demografi

Dan bukan tidak mungkin, dampak lebih buruk lagi, Indonesia mengalami kemunduran.

Editor: Wahyu Aji
Peluncuran Centre for Youth and Population Research (CYPR), sebuah lembaga riset yang berfokus pada kepemudaan dan kependudukan. Seminar yang digelar secara daring dan luring, Jumat (11/6) ini mengusung tema “Lingkungan Hidup dan Pemberdayaan Pemuda Berkelanjutan dalam Konteks Bonus Demografi”. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Kebijakan mengenai kependudukan, pemuda, dan lingkungan hidup saling terkait satu sama lain.

Pentingnya integrasi antar ketiganya dipaparkan dalam acara peluncuran Centre for Youth and Population Research (CYPR), sebuah lembaga riset yang berfokus pada kepemudaan dan kependudukan.

Seminar yang digelar secara daring dan luring pada Jumat (11/6) ini mengusung tema “Lingkungan Hidup dan Pemberdayaan Pemuda Berkelanjutan dalam Konteks Bonus Demografi” dan dihadiri para pembicara dari kalangan ahli, praktisi dan tokoh nasional, seperti mantan Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup Prof. Emil Salim, Kepala Lembaga Demografi UI Turro Wongkaren, serta mantan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas Andrinof Chaniago.

Saat ini, jumlah penduduk Indonesia mencapai 270 juta orang, dengan proporsi 70% berada di usia produktif (15-60 tahun) yang sebagian besar di antaranya ialah kelompok pemuda (16-30 tahun).

Jika pemuda tidak diberdayakan, maka bukan tidak mungkin Indonesia justru membuang peluang bonus demografi dan para pemuda menjadi beban yang sangat berat.

Dan bukan tidak mungkin, dampak lebih buruk lagi, Indonesia mengalami kemunduran.

Direktur Eksekutif CYPR, Dedek Prayudi, dalam sambutannya menyampaikan bahwa CYPR memegang peran untuk mendorong sinergi antar pemberdayaan pemuda dengan perubahan pemahaman dan perilaku terhadap lingkungan hidup.

Oleh karena itu, Dedek menekankan pada perlunya mengedepankan budaya sadar dan peduli risiko (risk culture & awareness), utamanya terhadap lingkungan.

“Kini, pengelolaan lingkungan hidup berada di tangan generasi muda. Bonus demografi adalah peluang mendorong produktivitas, namun hal ini akan mendorong distribusi dan konsumsi yang memiliki risiko adanya eksternalitas negatif yang dihasilkan. Proses produksi, distribusi dan konsumsi memiliki dampak besar terhadap lingkungan hidup,” kata Dedek Prayudi.

Pasalnya, banyak aktivitas ekonomi saat ini berdampak negatif terhadap lingkungan hidup seperti polusi udara, sampah plastik, dan lainnya.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved