Breaking News:

Kenapa Roti Buaya Selalu Identik Dengan Pernikahan Adat Betawi? Ini Penjelasannya

Warga Jakarta pasti kenal dengan roti buaya. Kuliner ikonik yang satu ini selalu hadir dalam perayaan pernikahan adat Betawi.

Penulis: Pebby Ade Liana | Editor: Muhammad Zulfikar
TribunJakarta.com/Pebby Ade Liana
Replika roti buaya yang ada di Museum Betawi Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan. 

Laporan wartawan TribunJakarta.com, Pebby Adhe Liana

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Warga Jakarta pasti kenal dengan roti buaya. Kuliner ikonik yang satu ini selalu hadir dalam perayaan pernikahan adat Betawi.

Umumnya, roti buaya dijadikan sebagai hantaran wajib bagi pengantin suku Betawi.

Bukan karena sekedar rasanya yang enak, tetapi dalam sejarah Betawi roti buaya sarat akan makna.

Salah satunya, boleh dibilang bahwa roti buaya merupakan simbol dari kesetiaan.

Mengutip keterangan yang ada di Museum Betawi Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan, suku Betawi percaya bahwa buaya hanya kawin sekali dengan pasangannya.

Oleh sebab itu, roti ini dipercaya sebagai simbol kesetiaan dalam sebuah pernikahan.

Biasanya, dalam pernikahan roti buaya diletakan di sisi mempelai perempuan dan para tamu.

Sementara itu mengutip dari website Jakarta Tourism, seorang peneliti sejarah Betawi, JJ Rizal mengatakan bahwa makna roti buaya dalam budaya Betawi tak lepas dari letak daerah Kota Jakarta itu sendiri.

Dahulu, Jakarta dikelilingi oleh 13 sungai. Dari sungai inilah akhirnya buaya-buaya sering bermunculan dan berinteraksi dengan masyarakat.

Dibuatnya roti buaya ini, karena warga Betawi kala itu terinspirasi dari kesetiaan buaya yang hanya kawin sekali dalam seumur hidupnya.

Baca juga: Tiga Kue Kering Khas Betawi yang Lezat dan Kerap Menghiasi Perayaan Hari Besar

Baca juga: Kuliner Gerobak Legendaris di Glodok, Nasi Ulam Betawi Racikan Haji Nana Sejak 1980-an

Baca juga: Rasakan Sensasi Makan Nasi Ulam Betawi Haji Nana di Glodok, Selalu Ramai Pembeli: Ludes Dalam 2 Jam

Selain sebagai lambang kesetiaan, roti buaya juga dipercaya sebagai simbol kesabaran.

Sebab, buaya dipercaya selalu bersabar dalam menunggu dan mengintai mangsanya.

Adapula yang mengartikannya sebagai lambang kejantanan.

Namun sayangnya kini dalam simbolisme budaya modern, buaya justru seringkali digambarkan sebagai sesuatu yang negatif seperti buaya darat, buaya judi, atau buaya minum (mabuk) misalnya.

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved