5 Kesalahan Saat Menyiapkan Dana Pendidikan Anak, Simak Baik-baik Agar Tak Terulang
Sebagai orang tua, penting bagi Anda melakukan perencanaan dana pendidikan anak. Salah satunya dengan menghitung jumlah biaya pendidikan sang anak.
TRIBUNJAKARTA.COM - Berikut kesalahan yang sering dialami saat menyiapkan dana pendidikan anak.
Sebagai orang tua, penting bagi Anda melakukan perencanaan dana pendidikan anak.
Berikut kesalahan yang bisa dilakukan orang tua saat menyiapkan dana tersebut:
1. Tidak Melakukan Perencanaan
Perencana Keuangan Finansialku, Rista Zwestika, CFP® menjelaskan, kesalahan pertama yang paling fatal ialah tidak melakukan perencanaan keuangannya.
“Jika Anda sebagai orang tua tidak memiliki persiapan dan rencana untuk pendidikan anak, maka Anda sudah melakukan kesalahan fatal,” katanya kepada TribunJakarta pada Jumat (25/6).
Meski anak Anda masih usia belia, Anda bisa menyiapkannya sedini mungkin. Sehingga, Anda lebih siap menyekolahkan anak di sekolah yang terbaik.
Baca juga: Cara Daftar Beasiswa Data Science DQLab-UMN, 500 Kuota Dibuka, Dapat Sertifikat
2. Terlambat Mulai Merencanakan
Rista menekankan, bukan karena orang tua tidak sadar pentingnya perencanaan, namun karena orang tua banyak menunda.
Tanda-tanda penundaan pun bisa beragam, seperti:
“Ah nanti saja, uangnya mau dipakai untuk beli mobil dulu.”
“Besok saja lah investasinya, ‘kan kuliahnya masih 18 tahun lagi.”
“Nanti sama mamanya aja, urusan biaya pendidikan diurus sama mama.”
“Suami sajalah kalau urusan investasi-investasi.”
Dalam hal ini, keterbukaan dengan pasangan adalah kuncinya, agar Anda bisa menemukan solusi yang cocok dalam menyiapkan dana pendidikan anak.
3. Mengabaikan Inflasi
Rista menjelaskan, setidaknya rata-rata inflasi biaya pendidikan di Indonesia adalah 15-20 persen per tahun.
Ada juga beberapa sekolah yang mengalami kenaikan 10 persen per semester atau setara dengan 21 persen per tahun.
“Perhitungannya akan jauh lebih kompleks, jika orang tua ingin menyekolahkan anak ke luar negeri,” jelasnya.
Baca juga: Jadi Syarat Daftar CPNS 2021, Simak Cara Cek Akreditasi Perguruan Tinggi dan Prodi Klik banpt.or.id
4. Salah Menentukan Waktu
Terkadang, ada orang tua yang salah dalam memperkirakan antara waktu dan biaya pendidikan yang dibutuhkan.
“Pada saat Anda menentukan periode waktu, perlu disesuaikan dengan umur anak saat ini,” ujar Rista.
Bila anak Anda masih bayi yang berusia 0 tahun, maka sedikitnya ada 5 tahapan waktu yang perlu diperhatikan:
- Masuk Playgroup & TK sekitar 3 tahun dari sekarang. Anda perlu membuat strategi investasi tujuan jangka menengah.
- Masuk SD sekitar 6 tahun dari sekarang. Anda perlu membuat strategi tujuan jangka menengah dan panjang.
- Masuk SMP sekitar 12 tahun lagi. Anda perlu membuat strategi tujuan jangka panjang.
- Masuk SMA sekitar 15 tahun lagi. Anda perlu membuat strategi tujuan jangka panjang.
- Masuk Kuliah S1 sekitar 18 tahun lagi. Anda perlu membuat strategi tujuan jangka panjang.
5. Berinvestasi Tanpa Rencana
Sebelum berinvestasi, Anda perlu mengetahui seberapa banyak sebaiknya Anda menabung, produk investasi mana yang cocok, berapa jumlahnya, kapan waktu mulainya, dan lainnya.
Karena, berinvestasi tanpa rencana akan menghasilkan return yang tidak sesuai diharapkan dan sia-sia.
“Intinya, sebelum Anda melakukan investasi, mulailah dengan membuat rencana keuangan,” tegasnya.
Setelah Anda memahami kesalahan-kesalahan tersebut, usahakan untuk tidak melakukan kesalahan yang sama.
“Segera lakukan perbaikan dan tindakan untuk menyiapkan pendidikan yang terbaik untuk buah hati,” papar Rista.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/ilustrasi-uang-rupiah-pecahan-kertas.jpg)