Antisipasi Virus Corona di Tangsel

Demi Pasien Covid-19, Pengusaha Depot Oksigen Tangsel Tolak Layani Bengkel Las dan Penjual Ikan

Dani Sanjaya, pengusaha depot isi ulang oksigen di Jalan JLS, dekat simpang Muncul, Setu, Tangsel, sangat menyadari kondisi tersebut

Penulis: Jaisy Rahman Tohir | Editor: Erik Sinaga
TribunJakarta/Jaisy Rahman Tohir
Dani, pengusaha depot isi ulang oksigen di Jalan JLS, dekat simpang Muncul, Setu, Tangsel, Rabu (30/6/2021). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com Jaisy Rahman Tohir

TRIBUNJAKARTA.COM, SETU - Lonjakan kasus Covid-19 pada periode Juni 2021 Tangerang Selatan (Tangsel) membuat depot isi ulang oksigen banjir pelanggan.

Para pelanggan itu adalah warga yang terpapar Covid-19 dan terpaksa isolasi mandiri (isoman) karena rumah sakit penuh. 

Namun saat isoman, tidak sedikit pasien Covid-19 yang mengalami sesak napas, laiknya gejala umum infeksi virus ganas itu. 

Baca juga: Pusing dan Kurang Tidur, Pengusaha Depot Oksigen di Tangsel: Ampun Dah Ngelayanin Enggak Berhenti

Jadilah depot oksigen menjadi buruan warga demi menyambung hidup.

Dani Sanjaya, pengusaha depot isi ulang oksigen di Jalan JLS, dekat simpang Muncul, Setu, Tangsel, sangat menyadari kondisi tersebut. 

Danipun bertekad menjalankan depot isi ulang oksigennya untuk kemanusiaan.

Baca juga: Krisis Ketersediaan Tabung Oksigen di Jakarta, Anies Baswedan Sampai Borong dari Tangerang

Ia hanya menjual oksigennya untuk pasien Covid-19 ataupun pasien penyakit dalam lain yang membutuhkan. 

Dani menolak pembeli dari penjual ikan dan bengkel las yang sebelumnya sudah berlangganan. 

Seperti diketahui, penjual ikan membutuhkan oksigen untuk pengemasan dan bengkel las juga memerlukan oksigen.

"Sekarang saya cuma untuk pasien Covid-19, atau sama sakit lainnya, banyak juga langganan saya yang jantung, kanker. Saya sudah setop buat penjual ikan sama bengkel las," kata Dani, di depotnya, Rabu (30/6/2021).

Menurutnya, jika bukan untuk melayani pasien Covid-19 yang isoman, ia sudah menutup depotnya.

Baca juga: Stok Tabung Oksigen di Pasar Pramuka Kosong

Pasalnya, stok oksigen di produsen induk sudah menipis. 

Dani harus menunggu berjam-jam untuk belanja.

"Saya bawa 20 tabung, hanya boleh ngisi 10 maksimal. Itupun harus ditunggu, kalau ditinggal enggak diisi-isi," kata Dani.

Bahkan di tengah banyaknya permintaan dan persediaan yang menipis, Dani tidak tega menaikan harganya terlalu tinggi.

"Kemarin Rp 30 ribu untuk isi ulang tabung satu meter kubik, baru saya naikin kemarin jadi Rp 40 ribu. Tempat lain bisa Rp 50 ribu," pungkas Dani.

Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved