Breaking News:

Antisipasi Virus Corona di DKI

Gubernur Anies: Perusahan Non Esensial dan Kritikal Penyumbang Kasus Covid-19

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyebut, perusahaan non esensial dan non kritikal sebagai penyumbang angka Covid-19.

Penulis: Dionisius Arya Bima Suci | Editor: Wahyu Aji
TribunJakarta.com/Dionisius Arya Bima Suci
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan saat melepas 16 mobil vaksinasi keliling di halaman Balai Kita Jakarta, Kamis (8/7/2021). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Dionisius Arya Bima Suci

TRIBUNJAKARTA.COM, GAMBIR - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyebut, perusahaan non esensial dan non kritikal sebagai penyumbang angka Covid-19.

Pasalnya, kerap ditemukan perusahaan non esensial dan non kritikal yang tetap memaksa karyawannya ngantor di masa PPKM Darurat.

Padahal, selama masa PPKM Darurat mereka harus menerapkan 100 persen bekerja di rumah atau work from home (WFH).

"Saya minta kepada non esensial dan kritikal kalau anda tetap menugaskan karyawannya bekerja, maka anda termasuk penyumbang penambahan kasus Covid di Jakarta," ucapnya, Kamis (15/7/2021).

Mantan Menteri Pendidikan dan Pendidikan itu juga menyinggung pimpinan perusahaan yang sibuk berlindung di rumah, tapi tetap mempekerjakan karyawannya di kantor.

Ia menyebut, sikap mereka tetap berada di rumah sudah tepat, namun memaksa para pegawai tetap bekerja merupakan perbuatan yang tak bertanggungjawab.

Baca juga: Sidak Perkantoran di Jalan Sudirman, Anies Tunjuk-tunjuk Manajer HRD Lihat Ibu Hamil Dipaksa Ngantor

"Itu adalah orang-orang yang tidak bertanggungjawab, tidak bermoral," ujarnya di kawasan Mampang, Jakarta Selatan.

"Dalam situasi seperti sekarang tunjukan bahwa kita menjunjung tinggi keselamatan sesama manusia, apalagi itu karyawannya," tambahnya menjelaskan.

Sanksi tegas pun bakal diberikan kepada perusahaan yang masih nekat melanggar aturan WFH selama PPKM Darurat.

Terlebih, penyebaran Covid-19 makin menggila dengan penambahan kasus mencapai 12.000 hingga 14.000 per hari.

"Jangan sampai karyawan yang sesungguhnya bisa bekerja dari rumah, tetapi kebijakan perusahaan mengharuskan mereka bekerja di kantor, sehingga terjadilah mobilitas yang tetap tinggi, terjadilah potensi penularan," tuturnya. 

"Pesan utamanya adalah kita jaga keselamatan semua, caranya dengan mengurangi potensi penularan," sambungnya. (*)

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved