Breaking News:

Komnas PA Catat 52 Persen Kasus Kekerasan Anak Merupakan Kejahatan Seksual

Sejak tahun 2019 hingga kini kasus kekerasan anak didominasi kejahatan seksual.

Penulis: Bima Putra | Editor: Erik Sinaga
ISTIMEWA
Ilustrasi kekekerasan terhadap anak Sejak tahun 2019 hingga kini kasus kekerasan anak didominasi kejahatan seksual. 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, PASAR REBO - Perayaan Hari Anak Nasional tahun 2021 dibayangi setumpuk kasus kekerasan terhadap anak yang mayoritas justru dilakukan orang lingkungan terdekat anak.

Ketua Komnas Perlindungan Anak (PA) Arist Merdeka Sirait mengatakan berdasar laporan yang diterima pihaknya sejak tahun 2019 hingga kini kasus kekerasan anak didominasi kejahatan seksual.

"52 persen pelanggaran hak anak didominasi serangan kejahatan seksual baik dilakukan secara individual maupun berkelompok," kata Sirait saat dikonfirmasi di Pasar Rebo, Jakarta Timur, Kamis (22/7/2021).

Para pelaku terdiri orangtua kandung maupun tiri, kakak, paman kandung, guru, serta teman sebaya anak dan dalam beberapa kasus pihak keluarga justru memfasilitasi terjadinyan kekerasan.

Baca juga: Ketika 2 Anggota Polri jadi Korban Kejahatan dalam Semalam: Dibegal hingga Dikeroyok Geng Motor

Mendominasinya pelaku dari lingkungan terdekat anak membuat banyak kasus baru terungkap setelah kondisi korban dalam keadaan terlampau buruk sehingga butuh waktu lama korban untuk pulih.

"Data ini menunjukkan menderitanya anak-anak kita dengan posisi tidak mendapat pertolongan dari kita. Ada banyak kasus juga yang bisa kita saksikan dan temukan ditengah-tengah masyarakat kita," ujarnya.

Sirait menuturkan buruknya kasus kekerasan terhadap anak menunujukkan lemahnya peran pemerintah dalam mensosialisasikan bahaya kekerasan terhadap anak kepada warga.

Baca juga: Pilu Bocah 10 Tahun Jalani Isoman Setelah Ayah-Ibu Meninggal Covid-19, Begini Kondisinya

Pasalnya dalam banyak kasus beberapa orang terdekat anak mengetahui kejadian, tapi tidak langsung melapor ke aparat karena menganggap petaka tersebut masalah pribadi keluarga.

"Fakta-fakta ini sedang dihadapi anak-anak kita. Anak-anak dalam kondisi tak mampu membela dirinya. Sementara orang terdekat yang seyogianya menjadi garda terdepan justru menjadi pelakunya," tuturnya.

Menjelang Hari Anak Nasional yang diperingati setiap tanggal 23 Juli Sirait mengatakan pentingnya peran pemerintah dan lingkungan guna mencegah kasus kekerasan terhadap anak.

Baca juga: Pelaku Gangguan Jiwa, Proses Hukum Kasus Pelecehan Seksual di Musala Jatinegara Dihentikan

Tidak hanya untuk kasus kekerasan fisik, verbal, dan seksual, tapi juga bentuk kekerasan lain yang justru dianggap banyak masyarakat bukan kekerasan karena masih minimnya pemahaman.

"Anak-anak kita itu dibiarkan dan diajarkan paham-paham radikalisme, ujaran-ujaran kebencian dan intoleransi serta diajarkan untuk membenci sesamanya dan menolak aturan dan kebijakan negara dengan berbagai cara," lanjut Sirait.

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved