Breaking News:

Cerita Kriminal

Pengakuan Putus Asa 3 Pemuda Palak Sopir Truk di Cilincing: Buat Rokok-Makan, Dulu Tak Pakai Ancaman

Tiga pemuda warga Lagoa, Koja, Jakarta Utara itu sudah putus asa karena pada hari itu, mereka belum memegang uang untuk merokok maupun membeli makan.

Penulis: Gerald Leonardo Agustino | Editor: Wahyu Aji
ISTIMEWA
Konferensi pers penangkapan pemalak sopir truk, Jumat (23/7/2021), di Mapolsek Koja, Jakarta Utara. 

"Dalam kegiatan tersebut, baru melaksanakan satu kali di hari yang sama. Pengakuannya baru satu kali," ucap Abdul.

Otak aksi pemalakan tersebut, MY juga mengakui bahwa pemalakan ini sudah terencana.

MY melontarkan ide kepada kedua pelaku lain soal pemalakan ini sampai akhirnya disepakati.

"Iya (sepakat bertiga) punya ide (malak sopir truk)," ucap MY.

MY mengaku uang hasil kejahatannya sebanyak Rp 100 ribu sudah digunakan mereka bertiga untuk mengisi perut dan membeli rokok.

MY juga mengakui bahwa selama ini ia dan kedua rekannya memang sering berada di putaran jalan untuk mencari uang makan.

"Kalau nggak ada duit (jadi tukang) parkir di situ," katanya.

Atas perbuatannya, para pelaku pemalakan itu dijerat Pasal 368 ayat 1 KUHP dengan ancaman hukuman 9 tahun.

Baca juga: Viral Aksi Pemalakan Terhadap Sopir Truk Kembali Terjadi di Jakarta Utara

Keamanan di Jalan Raya Diminta Ditingkatkan

Terkait pemalakan itu, Ketua Korlap Persatuan Sopir Trailer Tanjung Priok (PSTTP), Sugito mengatakan, pihaknya berharap polisi melakukan peningkatan keamanan di jalan raya yang biasa dilalui truk trailer.

Peningkatan keamanan, kata Sugito, sejatinya untuk membuat para sopir truk bisa berkendara dengan aman dan nyaman.

"Harapan saya ya harus ditingkatkan lagi perihal masalah pengemudi di lapangan gitu. Biar kerja tuh nyaman, kalau ada kemacetan atau apa gitu," ucap Sugito.

Hal senada disampaikan Ketua Gepkes Indonesia sekaligus anggota Forum Lintas Komunitas Pengemudi Indonesia (FLKPI), Syarif Hidayat.

Melansir dari Kompas.com, Syarif berpendapat pemalakan terhadap sopir dan aksi kriminal lainnya akan terus terjadi meski telah diberantas.

"Kalau terkait ini kayaknya sudah kayak hukum alam. Jadi ini diberantas satu bulan kemudian ada lagi ada lagi, susah untuk hilang," kata Syarif kepada Kompas.com, Jumat (23/7/2021).

"Pemalakan, penjambretan itu pasti ada lagi misalkan ini sudah diberantas sebulan ke depan ada lagi," lanjutnya.

Syarif pun akhirnya menyuruh anggotanya untuk merekam jika terjadi pemalakan.

Saat ini, Syarif dan para sopir truk lain sebisa mungkin membuat bukti ketika kejadian terulang kembali, untuk kemudian diserahkan kepada pihak kepolisian.

"Jadi langkah pengemudi untuk membantu kepolisian ya begini, membuat dokumentasi yang valid sehingga bisa kita sampaikan kepada aparat dan pihak kepolisian," ucapnya.

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved