Breaking News:

Hari Mangrove Sedunia, Berikut Sederet Hal yang Patut Kamu Ketahui soal Wisata Ramah Lingkungan

Peringati Hari Mangrove Sedunia pada 26 Juli, yuk cari tahu tentang wisata ramah lingkungan.

Editor: Kurniawati Hasjanah
TribunJakarta.com/Yusuf Bachtiar
Hari Mangrove Sedunia, Berikut Sederet Hal yang Patut Kamu Ketahui soal Wisata Ramah Lingkungan 

TRIBUNJAKARTA.COM - Peringati Hari Mangrove Sedunia pada 26 Juli, yuk cari tahu tentang wisata ramah lingkungan alias Eco-travel.

Eco-travel diketahui bukanlah istilah sebatas berwisata ke alam bebas. Konsep eco-travel punya makna lebih luas.

Eco-travel mengacu pada kegiatan wisata yang lebih bertanggung jawab.

Sehingga, kamu tak hanya berfokus menikmati destinasi wisatanya saja, namun juga menjaga kelestarian alam dan juga memberikan dampak positif pada warga lokal.

Menjaga kelestarian lingkungan saat ini masuk dalam protokol kesehatan pariwisata yang digerakkan oleh Kemenparekraf di masa pandemi Covid-19, selain kesehatan, kebersihan dan keselamatan atau dikenal dengan istilah CHSE.

Peresmian Taman Wisata Terpadu Pantai Karang Mangrove Pulau Lancang, Pulau Pari, Kepulauan Seribu Selatan, Kepulauan Seribu, Rabu (22/7/2020).
Peresmian Taman Wisata Terpadu Pantai Karang Mangrove Pulau Lancang, Pulau Pari, Kepulauan Seribu Selatan, Kepulauan Seribu, Rabu (22/7/2020). (Dok. Kabupaten Kepulauan Seribu)

Dinni Septianingrum, Co-Founder dan COO Seasoldier memaparkan, beberapa hal yang perlu kita lakukan untuk menjadi eco-travel. Terlebih apabila ingin mengunjungi hutan mangrove.

"Pastikan yang kalian kunjungi merupakan hutan mangrove untuk wisata, yang legal dan ada pengelolanya," terang Dinni.

Dinni memaparkan, harga tiket masuk ke hutan mangrove sangat terjangkau.

Baca juga: Taman Wisata Terpadu Pantai Karang Mangrove Jadi Destinasi Wisata Baru di Pulau Lancang

"Kalau sudah pandemi rendah, kamu bisa mengajak teman untuk wisata ke sana," jelas Dinni.

Selain itu, Dinni menyarankan agar wisatawan sadar diri dan bertanggungjawab atas keselamatan lingkungan.

"Bawa sampahmu pulang, bawa tempat makanan sendiri karena hutan mangrove itu jauh biasanya dari tempat pembuangan sampah akhir (TPA), gak sedeket di kota. Terus tangan kita jangan usil, mencoret-coret atau memetik daun," aku Dinni.

Dinni memaparkan, biasanya di kawasan eco-wisata ada pihak yang bisa menjelaskan mengenai edukasi tempat tersebut.

"Kalau di Bali, kita naik kapal mengelilingi hutan mangrove dan menjelaskannya, bisa melihat biota laut di sana juga," terang Dinni.

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved