Antisipasi Virus Corona di Depok

Nasib Surat Surat Swab Antigen di Depok, Jadi Bungkus Gorengan Hingga Komoditi Pemalsuan Percetakan

Di Depok, dokumen hasil tes Covid-19 bisa sangat berharga hingga diburu dan dipalsukan, bisa jadi sebaliknya, terbuang dan jadi bungkus makanan

Istimewa

Imran mengungkapkan, awal mula AS membuat surat swab antigen palsu itu atas permintaan sesaorang.

Sesaorang yang merupakan pegawai sebuah perusahaan itu dimintai surat keterangan negatif swab antigen oleh bosnya.

“Modusnya si pengguna (pegawai sebuah perusahaan) ini membutuhkan swab antigen tapi harus dinyatakan negatif, itu dari perusahaannya,” ujar Imran.

“Dengan berbagai cara dia paksakan untuk membuat surat ini kepada tersangka yang di belakang. Dibuatlah surat itu mengatasnamakan salah satu klinik,” tambahnya.

Saat mendapat surat swab buatan AS itu, si bos perusahaan tidak begitu saja percaya. Ia mengonfirmasi kepada klinik yang namanya dicatut dalam surat dan ternyata hasilnya terbukti palsu.

Kapolres Metro Depok, Kombes Pol Imran Edwin Siregar (tengah) didampingi Kasat Reskrim Polres Metro Depok, AKBP Yogen Heroes (kiri), dan Kasubag Humas Polres Metro Depok, Kompol Supriyadi (kanan), memimpin ungkap kasus komplotan pembuat surat Swab Antigen palsu, Selasa (27/7/2021).
Kapolres Metro Depok, Kombes Pol Imran Edwin Siregar (tengah) didampingi Kasat Reskrim Polres Metro Depok, AKBP Yogen Heroes (kiri), dan Kasubag Humas Polres Metro Depok, Kompol Supriyadi (kanan), memimpin ungkap kasus komplotan pembuat surat Swab Antigen palsu, Selasa (27/7/2021). (TribunJakarta/Dwi Putra Kesuma)

“Perusahaan mengkonfirmasi kepada klinik ada atau tidak antigen atas nama tersangka ini, ternyata tidak ada. Yang asli kan pakai barcode, ini tidak ada barcode,” jelas Imran.

Selama 50 hari belakangan, AS dan komplotan sudah menerbitkan 80 surat swab antigen palsu, dengan bantuan lima kawannya sebagai pedagangnya.

80 surat itu mencatut beragam nama klinik yang ada di Depok, dengan cara memalsukan stampelnya.

"Ada sekitar 80 surat yang sudah beredar," kata Imran.

Sedangkan, per setiap surat swab antigen palsu, AS sebagai pembuat mendapat Rp 50 ribu, dan pedagangnya mendapat Rp 125 ribu.

“Dari pemesan ada yang memberikan Rp 175 ribu, ke perantara berikutnya Rp 125 ribu , tapi ke pembuat sendiri itu Rp 50 ribu,” jelasnya.

Baca juga: Polres Pelabuhan Tanjung Priok Tangkap Pasutri Pemalsu Sertifikat Vaksinasi Covid-19

Baca juga: Marcus/Kevin Bakal Hadapi Pasangan Underdog di Perempat Final Olimpiade Tokyo 2020

Pengakuan AS, membuat surat swab antigen palsu bukan hal yang sulit.

Dengan kemampuan editingnya dan jam terbang di bidang percetakan, AS dengan mudah memenuhi permintaan ilegal pelanggannya.

“Kliniknya mah asli ada. Stempelnya ngecrop dari stempelnya,” ungkap AS saat konferensi pers kasusnya.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved