Breaking News:

Antisipasi Virus Corona di Depok

Nasib Surat Surat Swab Antigen di Depok, Jadi Bungkus Gorengan Hingga Komoditi Pemalsuan Percetakan

Di Depok, dokumen hasil tes Covid-19 bisa sangat berharga hingga diburu dan dipalsukan, bisa jadi sebaliknya, terbuang dan jadi bungkus makanan

Istimewa

TRIBUNJAKARTA.COM, DEPOK - Hari ini, di tengah pandemi Covid-19 yang sudah hampir dua tahun berjalan, hasil tes swab antigen memegang peranan penting dalam kehidupan sehari-hari.

Di antaranya, berdasarkan Surat Edaran Nomor 58 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Perjalanan Orang Dalam Negeri Dengan Transportasi Perkeretaapian Pada Masa Pandemi Covid-19, surat negatif swab antigen menjadi salah satu syarat orang dapat bepergian menggunakan kereta api pada masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

Bagi beberapa profesi, surat negatif swab antigen juga menjadi syarat mutlak mengikutri sebuah pertemuan.

Namun, di sisi lain, untuk mendapatkan dokumen kesehatan itu tidak gratis.

Mayoritas harga tes swab antigen untuk mendapatkan bukti negatif atau positif paparan Covid-19 di klinik dan apotek kawasan Jabodetabek, di atas Rp 150 ribu.

Untuk sebagian masyarakat, di tengah situasi sulit ekonomi saat ini, mengeluarkan kocek ratusan ribu untuk mendapatkan surat swab antigen terasa berat.

Pemalsuan Surat Swab

Saking pentingnya, di Depok, orang-orang sampai rela membayar untuk membuat surat swab antigen palsu.

Bak simbiosis mutualisma, oknum percetakan melihat adanya peluang tambahan pendapatan dari permintaan surat dokumen kesehatan itu.

Ialah AS, seorang pekerja di sebuah percetakan di kawasan Depok, yang sudah 50 hari menjadi pembuat surat swab antigen palsu.

ia mendagangkan jasa ilegalnya itu melalui lima kawannya berinisial ME, AK, RR, NN, dan MA.

Keenamnya kini sudah diringkus aparat Reskrim Polres Metro Depok.

Mereka dijerat pasal pasal 263 KUHP tentang pemalsuan surat, juncto pasal 55 KUHP, dan pasal 56 KUHP dengan ancaman enam tahun penjara.

Baca juga: Hendak Peristri Teman Facebook, Korik Kaget Mantan Pacar Juga Minta Dinikahi: Saya Nikahi Dua-duanya

Baca juga: Tahap 2 Cair Juli-September 2021, Cek Penerima BLT UMKM 2021 Rp 1,2 Juta Klik Situs Ini

Kapolres Metro Depo, Kombes Imran Edwin Siregar, merilis kasus tersebut di Mapolres Metro Depok, Pancoran Mas, kemarin, Selasa (27/7/2021).

Imran mengungkapkan, awal mula AS membuat surat swab antigen palsu itu atas permintaan sesaorang.

Sesaorang yang merupakan pegawai sebuah perusahaan itu dimintai surat keterangan negatif swab antigen oleh bosnya.

“Modusnya si pengguna (pegawai sebuah perusahaan) ini membutuhkan swab antigen tapi harus dinyatakan negatif, itu dari perusahaannya,” ujar Imran.

“Dengan berbagai cara dia paksakan untuk membuat surat ini kepada tersangka yang di belakang. Dibuatlah surat itu mengatasnamakan salah satu klinik,” tambahnya.

Saat mendapat surat swab buatan AS itu, si bos perusahaan tidak begitu saja percaya. Ia mengonfirmasi kepada klinik yang namanya dicatut dalam surat dan ternyata hasilnya terbukti palsu.

Kapolres Metro Depok, Kombes Pol Imran Edwin Siregar (tengah) didampingi Kasat Reskrim Polres Metro Depok, AKBP Yogen Heroes (kiri), dan Kasubag Humas Polres Metro Depok, Kompol Supriyadi (kanan), memimpin ungkap kasus komplotan pembuat surat Swab Antigen palsu, Selasa (27/7/2021).
Kapolres Metro Depok, Kombes Pol Imran Edwin Siregar (tengah) didampingi Kasat Reskrim Polres Metro Depok, AKBP Yogen Heroes (kiri), dan Kasubag Humas Polres Metro Depok, Kompol Supriyadi (kanan), memimpin ungkap kasus komplotan pembuat surat Swab Antigen palsu, Selasa (27/7/2021). (TribunJakarta/Dwi Putra Kesuma)

“Perusahaan mengkonfirmasi kepada klinik ada atau tidak antigen atas nama tersangka ini, ternyata tidak ada. Yang asli kan pakai barcode, ini tidak ada barcode,” jelas Imran.

Selama 50 hari belakangan, AS dan komplotan sudah menerbitkan 80 surat swab antigen palsu, dengan bantuan lima kawannya sebagai pedagangnya.

80 surat itu mencatut beragam nama klinik yang ada di Depok, dengan cara memalsukan stampelnya.

"Ada sekitar 80 surat yang sudah beredar," kata Imran.

Sedangkan, per setiap surat swab antigen palsu, AS sebagai pembuat mendapat Rp 50 ribu, dan pedagangnya mendapat Rp 125 ribu.

“Dari pemesan ada yang memberikan Rp 175 ribu, ke perantara berikutnya Rp 125 ribu , tapi ke pembuat sendiri itu Rp 50 ribu,” jelasnya.

Baca juga: Polres Pelabuhan Tanjung Priok Tangkap Pasutri Pemalsu Sertifikat Vaksinasi Covid-19

Baca juga: Marcus/Kevin Bakal Hadapi Pasangan Underdog di Perempat Final Olimpiade Tokyo 2020

Pengakuan AS, membuat surat swab antigen palsu bukan hal yang sulit.

Dengan kemampuan editingnya dan jam terbang di bidang percetakan, AS dengan mudah memenuhi permintaan ilegal pelanggannya.

“Kliniknya mah asli ada. Stempelnya ngecrop dari stempelnya,” ungkap AS saat konferensi pers kasusnya.

Mendapat upah sebesar Rp 50 ribu dari satu surat palsu yang ia hasilkan, AS mengaku uang tersebut ia gunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

“Dapat Rp 50 ribu. Buat beli kopi sama rokok saja sudah habis,” tuturnya.

Jadi Bungkus Gorengan

Masih di kota yang sama, cerita tentang surat swab antigten justru seperti benda tak bernilai.

Seorang warga Depok mendapati surat swab antigen dengan keterangan positif, menjadi bungkus gorengan.

Dokumen kesehatan yang menjadi bungkus panganan itu diunggah oleh warganet melalui akun @infodepok_id, dan menjadi viral hingga mendapat lebih dari 7.000 lebih likes, serta menuai lebih dari 400 komentar.

“Ini tadi kita beli gorengan bungkus gorengan bekas dokumen hasil Swab positif. Lah kita makan gorengan jadi gimana gitu jadi ngeri-ngeri sedap gitu,” demikian caption dalam unggahan tersebut.

Layar tangkap unggahan surat hasil Swab Positif Covid-19 dijadikan bungkus gorengan di akun instagram @infodepok_id
Layar tangkap unggahan surat hasil Swab Positif Covid-19 dijadikan bungkus gorengan di akun instagram @infodepok_id (ISTIMEWA/Akun Instagram @infodepok_id)

Warganet pun menanggapi unggahan tersebut dengan berbagai reaksi di kolom komentar.

“Baiknya sih kalau mau dibuang surat-surat keterangan pemeriksaan mendingan dibakar atau gunting kecil-kecil. Jangan langsung dibuang,” ujar warganet dengan nama akun @ike_ike.ike.

“Gak apa, kan yang dimakan gorengannya bukan kertasnya,” tambah warganet dengan nama akun @ahmmadrizki22.

“Welcome to Depok,” ujar warganet lainnya dengan nama akun @arifsaadilah, dibubuhi emoticon api membara pada akhir komentarnya.

Menanggapi hal tersebut, Kasat Reskrim Polres Metro Depok, AKBP Yogen Heroes Baruno, mengatakan, pihaknya akan melihat apakah ada unsur pidana dari viralnya bungkus gorengan tersebut.

“Nanti kalau terbukti ada yg dirugikan atau ada pidana nanti pasti kita tindaklanjuti ya,” kata Yogen melalui pesan singkat pada wartawan, Selasa (27/7/2021).

Yogen menuturkan, tidak ada keterangan atau pun petunjuk bahwa temuan bungkus gorengan bekas surat hasil Swab Covid-19 ini berada di Depok.

“Kan di kertas itu gak ada yang menunjukkan dari Depok, hanya di upload di IG (Instagram) infodepok,” tuturnya.

Terakhir, Yogen berujar pihaknya masih melakukan lidik untuk memastikan dari mana bungkus gorengan itu berasal.

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved