Masih Pandemi Covid-19, Apakah Bijak Mengambil KPR? Ini Kata Perencana Keuangan

Di tengah situasi PPKM yang diterapkan karena pandemi Covid-19,  apakah bijak mengambil KPR rumah?

KONTAN/Cheppy A Muchlis
Masih Pandemi Covid-19, Apakah Bijak Mengambil KPR? Ini Kata Perencana Keuangan 

TRIBUNJAKARTA.COM - Mempunyai rumah biasanya menjadi impian banyak orang.

Banyak cara untuk memiliki hunian misalnya membeli secara tunai, kredit pemilikan rumah (KPR), sampai kredit ke developer.

Di tengah situasi PPKM yang diterapkan karena pandemi Covid-19,  apakah bijak mengambil KPR?

Perencana Keuangan Finansialku , Shierly, CFP® menjelaskan, penting untuk menelusuri kembali dampak PPKM terhadap keuangan kita.

Menurutnya, terdapat dua kelompok yang terdampak. Kelompok satu yang terdampak secara penghasilan, keuangannya minus, bahkan hingga bisa menjual asetnya demi menyambung hidup.

Ilustrasi
Ilustrasi (KONTAN/CAROLUS AGUS WALUYO)

Ada juga kelompok kedua yang mampu bertahan secara finansial, bahkan penghasilannya semakin bertambah banyak.

“Meski banyak keringanan KPR, namun daya beli konsumen tetap lemah berarti (keadaan) ini untuk kelompok pertama,” kata Shierly kepada TribunJakarta pada Rabu (4/8).

Baca juga: Daftar Jurusan Kuliah Paling Cepat Dapat Kerja di Tengah Pandemi, Cek Juga Profesi Paling Dicari

Sehingga, sebelum mengambil KPR, penting bagi kamu untuk mengambil beberapa pertimbangan berikut:

1. Kondisi keuangan

Shierly menegaskan untuk melihat kembali kondisi keuangan terlebih dahulu, apakah minus atau tidak.

Bila keuangan kamu sedang sakit atau kurang ideal, Shierly menyarankan untuk tidak membeli rumah dulu.

“Lebih pikirkan bagaimana caranya aman dulu secara keuangan. Jadi, bagaimana cashflow-nya harus tetap positif dan tetap bisa dipakai (untuk) pengeluaran,” terang Shierly.

Shierly memaparkan, tahun ini harga rumah mengalami penurunan di pasar.

Baca juga: Besaran Gaji dan Tunjangan Profesi Jaksa, Cek Juga Formasi Lengkap CPNS 2021 Kejaksaan RI

Bila tabungan sudah cukup, kamu bisa membelinya secara cash. Kalau belum cukup, bisa siasati membeli secara KPR

Shierly memaparkan, sebelum kamu memutuskan ingin membeli rumah, pastikan untuk mengamankan keuangan dulu.

Keamanan keuangan mencakup dana darurat, arus kas yang positif, utang-piutang yang tidak mencekik. Kalau ada tujuan keuangan yang penting, tetap alokasikan juga untuk ditabung atau berinvestasi.

“Kalau soal atur kas yang positif, harus pintar-pintar juga mengerem pengeluaran yang mungkin tidak terlalu prioritas untuk anggaran,” jelas Shierly. 

2. Hindari FOMO

Fear of Missing Out, disingkat menjadi FOMO adalah salah satu kesalahan yang harus dihindari bagi milenial.

Apalagi di saat banyaknya promo KPR Rumah yang tersedia sekarang. Shierly menegaskan jangan sampai mengorbankan uang dapur demi mengejar promo.

Baca juga: 5 Kesalahan Saat Menyiapkan Dana Pendidikan Anak, Simak Baik-baik Agar Tak Terulang

“Sebenarnya kesempatan akan selalu ada, rezeki selalu ada aja. Cuma masalahnya, kita mau membuka diri dan mau menyiapkan atau enggak,” aku Shierly.

Sehingga, untuk melepas belenggu dari FOMO, penting untuk kamu mengetahui seberapa urgensinya memiliki rumah.

Bila keadaan keuangan masih terasa mencekik, tidak ada salahnya untuk tetap tinggal di kediaman saat ini sambil mulai menyiapkan dana rumah. 

 3. Perhatikan antara Rasio Utang dan Pengeluaran

Shierly mengatakan, kamu harus melihat seberapa besar alokasi utang yang bisa kamu sanggupi dengan jumlah pengeluaran yang dilakukan.

Misalnya, kamu berpenghasilan Rp10 juta dan pengeluaran bulanannya sudah mencapai 90 persen.

Berarti rasio utang yang bisa kamu sanggupi hanya sebesar 10 persen, atau Rp1 juta.

Baca juga: Cara Download Sertifikat Vaksin Covid-19, Bagaimana Jika Belum Dapat SMS 1199 atau PeduliLindungi?

Shierly memberikan ilustrasi amannya, yakni bila kamu mau meminjam rumah, Bank biasanya memberi rasio dengan 1:3.

“Jadi kalau kamu punya penghasilan Rp10 juta, mungkin pinjaman yang diperbolehkan oleh bank sekitar 1/3 saja atau antara 30 - 35 persen,” papar Shierly. 

Bila dengan rasio tersebut kamu tidak mampu, artinya memang kamu harus menaikkan penghasilan atau saat ini belajar atur keuangan dengan baik.

“Jangan diperbesar gaya hidupnya, tapi diperbesar dulu penghasilannya dan atur alokasi anggarannya. Nanti lama-kelamaan bisa karena biasa,” ujar Shierly.

4. Perbesar penghasilan

Apabila memperbincangkan KPR, Bank tidak akan melihat berapa jumlah uang yang kamu miliki. Tapi melihat juga kemampuan dalam arus kas bulanan.

“Makanya kamu harus belajar untuk menghasilkan (pendapatan) lebih banyak, juga belajar mengelola keuangan saat ini dan ke depannya,” tegas Shierly.

Untuk memperbesar jumlah penghasilan, tentu kamu juga harus banyak mengasah skills baru dan melihat potensi bisnis yang menguntungkan. 

Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved