Tentang Usulan Pesangon Dosen dan Tendik, Ini Penjelasan Universitas Mercu Buana

Dengan komunikasi yang intensif antara Yayasan Bersama UMB dan para karyawan serta dosen PHK, hal ini diharapkan dapat menemui hasil akhir yang baik

Istimewa
Unviersitas Mercu Buana 

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Yayasan Menara Bhakti yang memayungi Universitas Mercu Buana (UMB) menjelaskan soal informasi atau pemberitaan yang beredar terkait usulan uang pesangon belasan dosen dan karyawannya yang telah sepakat mengakhiri Kerjasama atau pemutusan hubungan kerja (PHK).

Dari informasi yang beredar permasalahan pesangon dosen dan karyawan PHK tidak sesuai aturan. Padahal, permasalahan ini masih dalam tahap mediasi di Disnakertrans dan Energi DKI.

“Sudah ada kesepakatan terkait pesangon ini sebelumnya. Dan ini masih dalam proses mediasi. Perihal adanya perbedaan jumlah pesangon yang ditawarkan antara pihak berperkara adalah sesuatu yang lumrah dalam proses mediasi seperti ini,” kata Juru Bicara atau Tim Komunikasi UMB, Riki Arswendi, dalam keterangan tertulisnya, Minggu (8/8/2021).

“Sudah ada pertemuan dan komunikasi antara pihak Yayasan dengan para karwayan dan dosen PHK. Soal perhitungan pesangon yang diusulkan Yayasan Menara Bhakti, sebagai pengelola Universitas Mercu Buana kepada Dosen dan Tendik bermasalah dihitung berdasarkan Amanat Pasal Pasal 157 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan,” sambung Dudi Hartono yang juga juru bicara UMB.

Dengan komunikasi yang intensif antara Yayasan Bersama UMB dan para karyawan serta dosen PHK, hal ini diharapkan dapat menemui hasil akhir yang baik untuk kedua belah pihak.

“Kami perlu menjelaskan, besaran pesangon yang akan diterima para Dosen dan Tendik Bermasalah nilainya bervariasi sesuai dengan masa kerja, gaji dan jabatan yang bersangkutan. Jadi tidak semuanya disamaratakan. Kita sesuaikan dengan aturan yang ada,” jelas Riki Arswendi.

“Kami berharap penjelasan yang kami sampaikan ini dapat menjadikan permasalahan ini menjadi jelas dan berimbang,” tutur Riki.

Baca juga: Langkah Nyata PDIP Luncurkan Program Kejar Vaksin, Bantu Gubernur Anies Ciptakan Herd Immunity

Baca juga: Hadirkan Inovasi Belajar Berbasis Teknologi, IGTKI Gandeng Aplikasi Pendidikan Anak ICANDO

Salah seorang dosen yang diberhentikan, Boy Yuliandi mengatakan, 15 dosen dan staf sempat mengajukan surat bipartit sebanyak dua kali terkait pemecatan kepada Yayasan Menara Bhakti, selaku yayasan yang menaungi UMB.

Menurut Boy surat tersebut tak direspons, sehingga dia dan 14 orang lainnya memperkarakan hal itu kepada Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Energi DKI Jakarta.

Namun, Dudi menyatakan tak mendapat informasi terkait pengajuan dua surat tersebut.

"Sejauh yang saya tahu tidak ada," kata Dudi. Boy juga mengatakan, hanya 15 dari 23 orang staf yang dipecat mengajukan kasus itu ke Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Energi DKI Jakarta.

"Awalnya 15 dosen dan staf yang dipecat. Kemudian saat ini tambah jadi 23 dosen dan staf," kata Boy, dikutip dari Wartakotalive.com, Selasa (3/8/2021).

Menurut Boy yang mengaku telah bekerja sebagai dosen Fakultas Ilmu Komputer UMB sejak 2006, 15 orang yang dipecat terdiri dari 14 dosen tetap dan satu orang karyawan. Belasan dosen tersebut bekerja di berbagai fakultas di UMB.

Boy mengaku menerima surat pemecatan sepihak pada 7 Mei 2021. Setelah pemecatan, ia dan 14 dosen dan staf lainnya tak mendapat pesangon.

"Terakhir gaji April dan Mei (2021), nggak ada pesangon," ujar Boy.

Para dosen dan staf yang dipecat pun, kata Boy, tak tahu alasan pemecatan.

"Kalau dibilang (karena) masalah ekonomi coba katakan, mereka (yayasan) enggak ngomong. Kalau karena kerja kami buruk tunjukkan ke kami, ini mereka enggak ngomong, kalau ada hal mencurigakan silakan buka tapi enggak ada sampai saat ini ditunjukkan," kata Boy.

Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Soal Pemecatan 15 Dosen dan Staf, Pihak Mercu Buana Sebut Masih Proses Mediasi"

Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved