Breaking News:

Indonesia Berhasil Keluar dari Resesi Ekonomi pada Kuartal II 2021, Pemerintah Diharap Jangan Lengah

Untuk menjaga momentum ini, upaya partisipatif yang dapat kita lakukan dengan mendorong percepatan vaksin, hingga kampanye disiplin protokol kesehatan

Editor: Muhammad Zulfikar
Tribunnews.com/Jeprima
Kegiatan perekonomian 

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Pada Kamis 5 Agustus 2021 yang lalu, BPS secara resmi merilis realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2021 sebesar 7,07% (yoy).

Capaian ini kian mendorong optimisme kita semua akan keberhasilan kita keluar dari resesi. Namun demikian, apakah realisasi pertumbuhan ini cukup berkualitas?

Sekretaris Jenderal Indonesian Youth Community Network (Sekjend IYCN) Muhammad Fadli Hanafi berpandangan bahwa kinerja ekonomi berkualitas itu dapat ditinjau dari sisi keberlanjutannya (sustainability).

"Ekspor yang tumbuh 31,78% (yoy) sebagai salah satu pendorong ekonomi Indonesia sebenarnya 'tertolong' oleh peningkatan kinerja ekonomi negara mitra dagang seperti Amerika Serikat yang tumbuh 12,2% dan China yang tumbuh sebesar 7,9%," kata Fadli kepada wartawan, Jumat (13/8/2021).

Dari sisi domestik, peningkatan supply dan demand juga meningkat karena adanya pelonggaran kebijakan pembatasan sosial, sehingga konsumsi meningkat sebesar 5,93% (yoy) dan investasi meningkat 7,54% (yoy). Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa konsumsi (dari sisi pengeluaran) memberikan kontribusi tertinggi, sebesar 52,9% terhadap PDB.

Peningkatan aktivitas ekonomi ini juga ditandai oleh meningkatnya realisasi PPh 21 sebesar +/- 5% dan PPN sebesar +/- 8%. Semua itu dikarenakan ekonomi perlahan mulai berputar oleh pelonggaran kebijakan pembatasan aktivitas masyarakat.

Baca juga: Kapolri Ajak Warga Tangsel Turunkan Level PPKM Demi Pelonggaran Ekonomi

Baca juga: Neraca Pedagangan Surplus USD 1,32 Miliar, Menko Airlangga: Sinyal Keberlanjutan Pemulihan Ekonomi

Dengan beberapa indikator di atas, jika kinerja negara mitra dagang kembali terkontraksi kembali akibat varian baru Covid-19, ditambah lagi dalam 2 bulan terakhir kita melaksanakan PPKM, bukan tidak mungkin kinerja ekonomi akan kembali melambat, bahkan terkontraksi kembali.

"Memang dari sisi economic resilience yang harus kita optimalkan bersama. Secara struktur ekonomi, besarnya kontribusi konsumsi dalam ekonomi Indonesia mengindikasikan perlunya segera ekonomi kembali berputar untuk menjaga momentum positif ini," tuturnya.

Di sisi lain menurut Fadli, realisasi 7,07% pada kuartal II 2021 ini terjadi karena 'berangkat' dari lowbased growth, di mana sebelumnya ekonomi kita mengalami kontraksi. Sehingga perbandingannya kurang pas.

Karena jika kita bandingkan di periode yang sama saat kondisi ekonomi masih normal di periode 2018/2019, capaian kita masih masih relatif lebih rendah di 2021 ini. Dengan demikian momentum positif ini harus dipertahankan, setidaknya dengan menjaga daya beli dan perputaran ekonomi di tengah pandemi.

Uang yang masih terus terputar di sektor keuangan selama masa pandemi menjadi tantangan tersendiri, terlepas dari telah diturunkannya suku bunga acuan oleh Bank Indonesia (BI) yang seharusnya menjadi disinsentif perputaran aset di sektor keuangan. Hingga semester I 2021, pertumbuhan kredit mencapai 1,83% (ytd).

"Kita harapkan akan terus tumbuh agar perputarannya lebih ke sektor riil demi terjaganya momentum ini," katanya.

Untuk menjaga momentum ini, upaya partisipatif yang dapat kita lakukan dengan mendorong percepatan vaksin, membeli barang tetangga, hingga kampanye disiplin protokol kesehatan. "Mari terus berupaya dan jangan sampai lengah," tuturnya.

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved