Breaking News:

Kapan Sebenarnya Alat Pacu Jantung Diperlukan? Simak Penjelasan Dokter

Alat pacu jantung dapat bertahan 8 hingga 15 tahun tergantung dari pemakaian.

Penulis: Pebby Ade Liana | Editor: Y Gustaman
Tribun Jateng/Hermawan Handaka
Serangan jantung merupakan penyakit mendadak yang memang tidak diawali dengan gejala apapun. Selain keturunan sakit jantung juga bisa disebabkan oleh gaya hidup. Pola hidup yang tidak sehat seperti makan yang berlebihan, mengosumsi alkohol serta merokok adalah kegiatan yang dapat membuat orang mudah terkena risiko penyakit serangan jantung. TRIBUN JATENG/HERMAWAN HANDAKA 

Laporan wartawan TribunJakarta.com, Pebby Adhe Liana

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Jantung organ tubuh yang tidak pernah berhenti bekerja memompa darah ke seluruh tubuh, menyalurkan oksigen dan makanan.

Demikian diungkapkan oleh Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Konsultan Aritmia dan Konsultan Kardiologi Intervensi Eka Hospital BSD dr. Ignatius Yansen, Sp.JP (K) FIHA.

"Jantung adalah organ yang spesial karena memiliki instalasi listrik sendiri," kata dia dikutip dari keterangan Eka Hospital, Jumat (13/8/2021).

Ia menjelaskan, ada sekelompok sel di serambi kanan yang berfungsi sebagai generator.

Generator tersebut, membuat jantung berdenyut 60-100 kali per menit.

Baca juga: Ingin Jaga Kesehatan Jantung? Yuk Coba Resep Minuman Bawang Putih dan Jahe Merah ala dr Zaidul Akbar

Namun, ada banyak jenis gangguan jantung yang dapat terjadi. Salah satunya, adalah ketika jantung berdenyut terlalu pelan dari batas normal.

Menurut dokter Yansen, dengan bertambahnya usia, terjadi penurunan kualitas dari generator dan saluran listrik yang bertugas menghantarkan impuls listrik.

Perubahan kuku indikasi jantung bermasalah
Perubahan kuku indikasi jantung bermasalah (Intisari Online)

Hal ini menyebabkan denyut jantung akan semakin pelan di bawah 60 kali per menit. 

"Apabila gangguan ini cukup berat maka denyut nadi akan sangat pelan dan jantung tidak mampu memompa darah ke organ-organ vital di tubuh sehingga akan menimbulkan gejala pada penderita seperti cepat lelah, pusing, dan jatuh pingsan. Pada kasus yang lebih berat, keluhan dapat berupa nyeri dada, sesak nafas, hingga stroke," kata dia.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved