Breaking News:

Antisipasi Virus Corona di DKI

Disparekraf DKI Sosialisasikan Penggunaan Aplikasi Pedulilindungi ke Sejumlah Pelaku Usaha

Disparekraf Provinsi DKI Jakarta sosialisasikan penggunaan aplikasi Pedulilindungi kepada sejumlah pelaku usaha.

Kompas.com/Reza Wahyudi
Ilustrasi Disparekraf Provinsi DKI Jakarta sosialisasikan penggunaan aplikasi Pedulilindungi kepada sejumlah pelaku usaha. 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Nur Indah Farrah Audina

TRIBUNJAKARTA.COM, GAMBIR - Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Provinsi DKI Jakarta sosialisasikan penggunaan aplikasi Pedulilindungi kepada sejumlah pelaku usaha.

Berlangsung di kantor Disparekraf, sejumlah pelaku usaha mulai dari restoran, rumah makan dan kafe menghadiri sosialisasi tersebut pada Senin (6/9/2021).

"Setiap tamu dan karyawan wajib memindai barcode melalui aplikasi PeduliLindungi sebagai salah satu syarat untuk makan maupun masuk kerja di restoran, rumah makan, dan kafe. Bagi yang belum memiliki barcode PeduliLindungi dapat mendaftarkan melalui website www.phrionline.com," ucap Plt. Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi DKI Jakarta, Gumilar Ekalaya dalam rilisnya, Selasa (7/9/2021).

Penggunaan aplikasi PeduliLindungi sesuai dengan instruksi Menteri Dalam Negeri No. 38 Tahun 2021 tentang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Level 4, Level 3, dan Level 2 Corona Virus Disease 2019 di Wilayah Jawa dan Bali.

Baca juga: Oknum Petugas Kelurahan Kapuk Muara yang Bocorkan Data PeduliLindungi Adalah PPSU

Selanjutnya turut  tertuang dalam Surat Keputusan Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi DKI Jakarta No. 546 Tahun 2021 tentang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Level 3, Corona Virus Disease 2019 Pada Sektor Usaha Pariwisata.

Guna kemudahan sosialisasi ini, Gumilar mengimbau pelaku usaha agar membuat asosiasi untuk mewadahi pelaku usaha pariwisata yang bergerak dalam bidang restoran, rumah makan dan kafe.

Baca juga: Lurah Kapuk Muara Tak Menyangka Anak Buahnya Bobol PeduliLindungi

"Seperti mematuhi jam operasional, membatasi kapasitas maksimal 25% untuk restoran, rumah makan, dan kafe di ruang tertutup dan berdiri sendiri. Uji coba pembukaan ini jangan sampai menjadi euphoria, sehingga mengabaikan protokol kesehatan," tandasnya.

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved