Breaking News:

Respons Pengamat Sosial UI Atas Kegelisahan Masyarakat Terhadap Glorifikasi Saipul Jamil

Pengamat Sosial Universitas Indonesia (UI), Devie Rahmawati, menyoroti respon masyarakat atas  kemunculan pedangdut Saipul Jamil di televisi

Penulis: Dwi Putra Kesuma | Editor: Jaisy Rahman Tohir
Warta Kota/Arie Puji Waluyo
Pedangdut Saipul Jamil akhirnya menghirup udara segar setelah lima tahun mendekam didalam penjara, atas kasus asusila dan suap panitera dan hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara. 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Dwi Putra Kesuma

TRIBUNJAKARTA.COM, PANCORAN MAS – Pengamat Sosial Universitas Indonesia (UI), Devie Rahmawati, menyoroti respons masyarakat atas  kemunculan pedangdut Saipul Jamil di televisi usai bebas dari penjara atas kasus pelecehan seksual terhadap remaja.

Untuk informasi, munculnya kembali pedangdut yang karib disapa Bang Ipul ini di televisi menuai protes keras dari masyarakat, hingga muncul petisi untuk memboikotnya tampil di televisi.

Menurut Devie, kegelisahan masyarakat terhadap glorifikasi media kepada Saipul Jamil perlu dimaknai bahwa kini masyarakat sudah memiliki pemahaman yang baik ihwal perlindungan anak.

“Berbagai program literasi etika dan budaya di era digital beberapa saat ini seperti yang dilakukan oleh siberkreasi misalnya, telah menuai hasil,” ujar Devie dalam keterangan resminya, Jumat (10/9/2021).

“Kesadaran tinggi warga bahwa media menjadi ruang informasi yang diharapkan mampu memberikan inspirasi, edukasi dan absorsi etika, budaya dan moral, menjadi sesuatu yang penting diapreasiasi. Mengingat, pandemi 2020 lalu, telah membuat anak-anak terkondisikan untuk mengkonsumsi media online, yang justru berpeluang mengganggu pikiran, perasaan dan mental anak, karena konten tayangannya yang sulit dikontrol,” sambungnya.

Bahkan, devie mengungkapkan bahwa sebelum pandemi atau sekira pada tahun 2017, data menunjukan 90 persen anak usia 11 tahun telah terpapar pornografi.

Baca juga: Covid-19 Melandai, Pemprov DKI Tak Lagi Salurkan Bansos Tunai Rp300 Ribu

Baca juga: Nekat Buka Sampai Tengah Malam, 2 Tempat Karaoke di Grand Wijaya Jakarta Selatan Digerebek Polisi

“Jauh sebelum pandemi saja (2017), data menunjukkan 90 % anak usia 11 tahun sudah terpapar pornografi. Belum lagi tayangan kekerasan serta berbagai tayangan yang tidak pantas untuk anak,” ungkapnya.

Terakhir, Devie berujar bahwa media televisi sebenarnya mampu berperan menjadi oase bagi hadirnya menu-menu sehat unutk anak,

“Karena televisi memiliki ekosistem pengawasan, kurasi berjenjang serta aturan yang mengikat.  Pada televisi dan media mainstreamlah sebenarnya, masyarakat menitipkan cita dan cintanya untuk tumbuh sehatnya peradaban bangsa. Mari imbangi tsunami informasi yang tidak sehat di ruang digital, dengan tayangan televisi yang bermanfaat, bermartabat dan beradab,” pungkasnya

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved