Breaking News:

Kasus Penyekapan di Hotel Kawasan Margonda Depok, Polisi akan Panggil Saksi Kunci

Kasus penyekapan yang dialami AH dan istrinya di sebuah hotel kawasan Margonda, Kota Depok, beberapa waktu lalu, masih terus berlanjut.

Penulis: Dwi Putra Kesuma | Editor: Muhammad Zulfikar
TRIBUNJAKARTA.COM/DWI PUTRA KESUMA
Layar tangkap rekaman kamera CCTV saat korban dan pelaku berada di dalam hotel. 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Dwi Putra Kesuma

TRIBUNJAKARTA.COM, PANCORAN MAS – Kasus penyekapan yang dialami AH dan istrinya di sebuah hotel kawasan Margonda, Kota Depok, beberapa waktu lalu, masih terus berlanjut.

Terkini, Kepolisian Resort Metro Depok telah mengirimkan surat panggilan kepada pemilik perusahaan tempat korban bekerja.

Untuk informasi, korban yang juga berprofesi sebagai pengusaha disekap selama tiga hari sejak Rabu (25/8/2021) hingga Jumat (27/8/2021) silam.

AH dituduh menggelapkan uang perusahan yang nilainya menyentuh angka miliaran rupiah.

“Iya untuk saksi kunci (owner) ya atau saksi utama yang diduga, itu surat panggilan pertama sudah kami kirim. Namun karena keberadaan yang bersangkutan masih belum jelas dimana, kita melalui pengacaranya, ia berjanji untuk menyampaikan pada yang bersangkutan,” jelas Kasat Reskrim Polres Metro Depok, AKBP Yogen Heroes Baruno, kepada wartawan, Selasa (21/9/2021).

“Namun kita tunggu itikad baik yang bersangkutan, apabila tidak ada nanti kita kirim panggilan kedua,” sambungnya.

Bila panggilan pertama ini tidak diindahkan, Yogen mengatakan pihaknya akan mengirimkan surat panggilan kedua pada pekan depan.

“Kita lihat dari pengacara masih mencoba, ia menjanjikan untuk membantu komunikasi. Kalau gak bisa mungkin dalam Minggu depan kami kirim panggilan kedua,” tuturnya.

Lebih lanjut, Yogen berujar bila surat panggilan kedua tak juga direspon, kemungkinan pihaknya akan lanjut ke surat perintah membawa.

Baca juga: Pengusaha Korban Penyekapan di Depok Lapor ke Pomdam Jaya, Adukan Kekerasan dan Ancaman Pembunuhan

“Iya kalau sudah surat panggilan kedua kan berikutnya kita biasanya ada surat perintah membawa. Tapi surat ini harus kita pastikan, kalau orangnya gak ada kan gak bisa dibawa juga, jadi kita pastikan dulu keberadaan yang pasti, baru nanti kita lakukan mungkin sedikit upaya paksa,” ucapnya.

Saat ini, Yogen mengatakan owner perusahaan tempat korban bekerja yang diketahui berinisial K ini tidak diketahui keberadaannya.

“Tidak diketahui, di rumah dan kantor tidak ada. Kalau kantornya di Jakarta Selatan, sekitaran Pancoran, sementara rumahnya di Kelapa Gading,” pungkasnya.

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved