Breaking News:

Korban Dugaan Pelanggaran HAM Turki Bersuara di Peradilan Internasional

Peradilan internasional di Swiss mengadili dugaan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang terjadi di Turki

Freepik
Ilustrasi 

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Peradilan internasional di Swiss mengadili dugaan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang terjadi di Turki. Mereka mendengarkan kesaksian dua korban kekerasan dan seorang pengacara pembela HAM pada awal pekan lalu di Jenewa, Swiss.

Dikutip dari Turkish Minute, Rabu (22/9/2021), kesaksian pertama dari Mehmet Alp, seorang guru yang bekerja di sebuah sekolah negeri yang mengaku telah diculik oleh badan intelijen Turki MIT di Cizre pada 18 April 2015.

Mehmet Alp menyatakan dirinya dipaksa menandatangani pernyataan yang menuduhnya mendorong murid-muridnya untuk bergabung dengan Partai Pekerja Kurdistan (PKK). Dia mengaku berada di bawah todongan senjata untuk menandatangani dokumen itu. Mehmet tidak memberi tahu siapa pun kejadian itu karena takut.

“Kami tidak hanya menyiksa Anda, tapi juga kepada istri Anda jika perlu, dan anak-anak Anda akan berakhir di panti asuhan. Jadi jika Anda mencintai keluarga, maka jangan beritahu pengadilan apa yang telah terjadi,” kata Mehmet Alp menirukan intimidasi yang diterimanya.

Mehmet belakangan kemudian dibebaskan oleh pengadilan sambil menunggu persidangan pada 2018. Saat itulah dia memutuskan untuk melarikan diri ke Eropa untuk mencari suaka.

Sedangkan, saksi lainnya Erhan Dogan, seorang guru sejarah yang bekerja di sekolah yang berafiliasi dengan gerakan Gulen menyatakan, pemerintah Turki menuduh gerakan Gulen berada di balik kudeta yang gagal. Namun, gerakan tersebut menyangkal keterlibatan apapun dengan kudeta atau aktivitas lainnya.

“Saya dipukuli dengan tongkat,” kata Dogan seperti dilansir Turkish Minute.

Baca juga: Komnas HAM Minta Polisi Terbuka Soal Penyebab Kebakaran Maut di Lapas Kelas 1 Tangerang

Hakim Ketua Dr. Françoise Barones Tulkens bertanya terkait tindakan lain yang dideritanya. Dogan mengatakan aparat Turki juga melecehkannya.

Setelah Dogan, Eren Keskin, seorang pengacara dan aktivis hak asasi manusia di Turki, bersaksi dari jarak jauh melalui panggilan video.

Menggarisbawahi European Court of Human Rights (ECtHR), Eren Keskin mengatakan meskipun ada peraturan, pengadilan Turki tidak menerima laporan selain yang disiapkan oleh ahli kedokteran forensik yang diangkat dan dipekerjakan oleh pemerintah.

Peradilan ini mengklaim telah memberikan kesempatan pada Pemerintah Turki untuk melakukan pembelaan, tetapi tidak menggunakannya. Pengadilan ini akan mengumumkan putusannya yang juga akan dipublikasikan di situs web.

sumber: https://www.turkishminute.com/2021/09/20/key-tribunal-panel-of-judges-hears-victims-of-torture-rights-activist/

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved