Anggota Komisi VI DPR Dorong BUMN Asuransi Berperan Aktif Berikan Pemahaman ke UMKM

BUMN sektor asuransi diminta berperan aktif dalam memberikan pemahaman terkait manfaat dan kegunaan produk asuransi kepada para pelaku UMKM

Istimewa
Diskusi dengan tema "Peran IFG dan Anak Perusahaan Dalam Menyediakan Produk Asuransi dan Penjaminan di Masyarakat”. 

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - BUMN sektor asuransi diminta berperan aktif dalam memberikan pemahaman terkait manfaat dan kegunaan produk asuransi kepada para pelaku UMKM.

Demikian disampaikan Anggota Komisi VI DPR RI Darmadi Durianto dalam acara sosialisasi yang digelar di Jakarta, Kamis (30/09/2021) dengan tema "Peran IFG dan Anak Perusahaan Dalam Menyediakan Produk Asuransi dan Penjaminan di Masyarakat”.

Diketahui dalam acara sosialisasi tersebut hadir sejumlah stakeholder asuransi yang juga jadi pembicara antara lain pimpinan cabang DKI Jakarta PT Jaminan Kredit Indonesia (JAMKRINDO) Mohammad Robith Azmi, Kepala cabang DKI Jakarta PT Jasa Raharja, Suhadi, Head of Jakarta Cikini Branch PT Asuransi Kredit Indonesia (ASKRINDO), Adjis, Branch Manager Jakarta PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) Setiadi Imansyah.

"Peran asuransi adalah sebagai salah satu stakeholder pendukung ketahanan UMKM," tutur Bendahara Megawati Institute itu.

Darmadi mengatakan, selama ini dunia UMKM jarang membicarakan asuransi sebagai upaya untuk meminimalisir risiko.

"Selama ini, pembicaraan seputar UMKM lebih banyak menyoroti soal pembiayaan, kebijakan pendukung, pengembangan kapasitas usaha, dan lain sebagainya," kata Politikus PDIP itu.

Oleh karena itu, Darmadi berharap agar para pelaku UMKM untuk lebih menyadari pentingnya berasuransi.

Selama ini, kata dia, pelaku UMKM kebanyakan membeli asuransi melalui paket bundling dengan pembiayaan. Misalnya mereka mengambil kredit di lembaga pembiayaan atau bank, kemudian diwajibkan juga membeli asuransi.

Baca juga: Resolusi Tahun Baru, Yuk Mulai Cintai Diri Sendiri dengan Miliki Proteksi Asuransi

"Akibatnya, masih sedikit masyarakat yang sadar asuransi dan berinisiatif untuk membeli asuransi," kata dia.

Darmadi tak memungkiri jika hal ini terjadi karena tidak terlepas dari masih rendahnya tingkat literasi masyarakat terkait asuransi.

"Indeks literasi keuangan di Indonesia baru 38,03%. Sedangkan indeks literasi asuransi baru 19,4%. Itupun sebagian besar merupakan asuransi jiwa, bukan asuransi umum, apalagi asuransi mikro," papar dia.

Selain itu, Darmadi juga menjelaskan, pentingnya melakukan proteksi pelaku UMKM adalah demi terciptanya ekosistem UMKM yang tangguh dan berkelanjutan.

"Proteksi yang diberikan berupa transfer risiko dari UMKM kepada perusahaan asuransi. Jika terjadi risiko, perusahaan asuransi bisa membantu pemulihan secara cepat dan usaha mereka tidak turun," ujarnya.

"Ketika terjadi risiko, UMKM ini kan kebanyakan usahanya pas-pasan. Mereka tidak punya pencadangan yang cukup untuk melakukan recovery secara cepat. Tapi kalau mereka diproteksi, bisa ada jalan keluarlah. Jangan sampai mereka yang mau bangkit dari dampak risiko justru makin parah. Misalnya saja terjebak loan shark (rentenir)," tambahnya.

Maka dari itu, kata dia, dibutuhkan sebuah pembacaan yang komprehensif dalam membedah kebutuhan dari pelaku usaha, tidak hanya dari sisi pembiayaan, pengembangan kapasitas produksi, ataupun pembinaan.

"Penting sekali melakukan proteksi karena merupakan bagian dari upaya menjaga sustainability UMKM. Akhir kata, membangun UMKM tidak bisa dibangun hanya dalam waktu satu malam, dibutuhkan proses panjang dalam membaca persoalan dan langkah-langkah penyelesaian. Keterlibatan banyak stake holder juga dibutuhkan dalam semangat gotong royong," ucapnya.

Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved